Jokowi menerima kritik dari banyak pihak, hingga muncul istilah politik dinasti. Jokowi dianggap melakukan segala cara agar melanggengkan anaknya menjadi capres termasuk melanggar UU karena keberpihakannya pada Gibran saat ikut kampanye pilpres tanpa mengajukan cuti.
Sedangkan Mahfud dengan legowo mengundurkan diri dari jabatan Menkopolhukam RI agar bisa fokus saat mendampingi Ganjar Pranowo di kontestasi pilpres 2024.
Hasil Pilpres pun menuai polemik karena dinilai curang dengan satu putaran yang selama ini belum pernah terjadi dalam sejarah Pemilu di Indonesia. Gugatan pun diayangkan ke MK yang kemudian dimenangkan pasangan Prabowo-Gibran.
Tak hanya sampai di situ, usai pilpres selesai jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) 2024 pun menuai polemik karena ada upaya melanggengkan Kaesang agar bisa maju jadi pilgub Jakarta atau Jawa Tengah.
Alih-alih menggunakan Putusan MK, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI justru merevisi UU yang merubah syarat batas usia calon gubernur dan wakil gubernur pada pilkada 2024.
Rencana DPR merubah UU Pilkada sontak membuat masyarakat marah hingga muncul aksi Demo Darurat Indonesia, karena demokrasi di tanah air terancam oleh dinasti politik Jokowi.
Hal ini lah yang kemudian dikaitkan warganet dengan cuitan Mahfud MD. Pria kelahiran Sampang, Madura itu menilai pemimpin sekarang berkuasa karena dipengaruhi hawa nafsu keserakahan hingga melanggengkan segala cara yang nerakhir pada kemarahan rakyat.
Cuitan Mahfud MD pun menuai beragam reaksi dari netizen. Banyak warganet yang ikut merasa miris dan menyayangkan pemimpin saat ini yang berebut kekuasaan apalagi demi kepentingan pribadi.
"Jabatan dan kekuasaan itu bukan hak milik apalagi hak waris. Pemimpin yang lupa akan hal ini akhir jabatannya bakal ngenes," komentar @kangmirjda.
"Mungkin Pak Mulyono (nama kecil Jokowi) lupa atau dia tidak tahu cara melepaskan kekuasaan bahkan parahnya tidak tahu cara mengendalikan hawa nafsu, pengennya berkuasa terus, miris punya pemimpin seperti ini, rakyat yang kena imbasnya," komentar akun @Muhayyaa.
Baca Juga: Ajakan Mahfud MD ke Angkatan Reformasi 1998: Jangan Sewenang-wenang!
"Setuju dengan prof. Mahfud, karena segala sesuatu akan selesai pada waktunya dan tak ada yang abadi di dunia ini. Orang yang saat ini merasa menguasai semuanya akan mengakhirinya dengan pahit karena keserakahannya sendiri. Bahkan dunia akan mengenangnya dengan buruk, dan itu akan tercatat selamanya dalam sejarah," imbuh akun @christinn.***