news

Jalani KKN, Mahasiswa UNWAHA Jombang Hadir Membersamai Aktivitas Pagi Warga Asemgede

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 22:45 WIB
Mahasiswa UNWAHA Jombang sedang membaca Al-Qur'an. (As'ad Choirudin/SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id – Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Tambakberas Jombang di Desa Asemgede, Kecamatan Ngusikan, Jombang tidak hanya diisi dengan pelaksanaan program kerja. Interaksi mahasiswa dengan masyarakat juga semakin kuat melalui program yang lahir dari atensi Kepala Desa Asemgede, Lastinah, yakni tadarus Al-Qur’an setiap ba’da Subuh di masjid dan musala desa.

Program tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar mahasiswa KKN Kelompok 24 untuk membersamai masyarakat mengawali aktivitas pagi dengan membaca Al-Qur’an.

Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa dijadwalkan secara bergiliran mengisi kegiatan tadarus di berbagai masjid dan musala yang ada di Desa Asemgede. Dari total 22 mahasiswa KKN Kelompok 24, yang terdiri atas 11 mahasiswa laki-laki dan 11 mahasiswa perempuan, setiap masjid atau musala dijadwalkan mendapatkan tugas dua mahasiswa setiap hari.

“Program tersebut ditargetkan dapat berlangsung secara konsisten hingga akhir masa KKN. Dengan pola pembagian jadwal tersebut, mahasiswa berharap dapat menyelesaikan setidaknya satu kali khatam Al-Qur’an secara bersama-sama selama masa pengabdian di Desa Asemgede”. Ujar Mochammad Hatta, Koordinator Tadarus, Sabtu 8 Agustus 2026.

Baca Juga: Tanggal Cantik! 8 Agustus Memperingati Hari Kucing Sedunia, Ini Sejarah Internasional Cat Day dan Cara Terbaik Rayakan bersama Anabul Kesayangan

Lebih dari sekadar kegiatan keagamaan, tadarus ba’da Subuh menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk membangun kedekatan sosial dengan masyarakat. Mahasiswa dapat berinteraksi secara langsung dengan warga sejak pagi, mengikuti aktivitas masyarakat, sekaligus memahami kehidupan sosial dan budaya masyarakat Desa Asemgede.

Respons positif datang dari Bu Khusnul, guru TPQ di salah satu masjid sekaligus guru di SDN Asemgede. Ia menilai kehadiran mahasiswa KKN tahun ini terasa lebih dekat dengan masyarakat dibandingkan pelaksanaan KKN sebelumnya.

“Lebih bagus KKN tahun ini daripada tahun kemarin, karena ada program tadarus dan mahasiswa mau bermasyarakat,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa keberadaan mahasiswa tidak hanya dinilai dari program kerja formal yang dilaksanakan, tetapi juga dari kemauan untuk hadir, berbaur, dan membersamai kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Dananya dari Mana? Kolaborasi Raffi Ahmad dan Kemenag Jalankan Program Jumat Berkah, Bagikan Ribuan Makanan Selama 1 Tahun di Masjid Istiqlal Jakarta

Hal senada dirasakan mahasiswa KKN. Nur Hasanah, Wakil Ketua Kelompok 24, mengungkapkan bahwa kegiatan tadarus justru memberikan motivasi tersendiri bagi mahasiswa untuk membangun kebiasaan beraktivitas lebih pagi.

“Dengan tadarus setelah Subuh, kami merasa lebih termotivasi untuk beraktivitas lebih pagi. Setelah tadarus, kami juga sering jalan-jalan pagi bersama anak-anak kecil di sekitar desa,” tuturnya.

Kehadiran mahasiswa yang semakin menyatu dengan kehidupan warga juga terlihat dari respons masyarakat dalam keseharian. Warga Asemgede kerap memberikan sayuran, bahan masakan, makanan siap santap, hingga hasil bumi kepada mahasiswa KKN. Pemberian tersebut bukan sekadar bantuan material, tetapi menjadi simbol keakraban, kepedulian, dan penerimaan masyarakat terhadap kehadiran mahasiswa.

Mahasiswa pun merasakan bahwa hubungan yang terbangun bukan lagi sekadar hubungan antara peserta KKN dengan warga, melainkan mulai tumbuh suasana kekeluargaan. Antusiasme masyarakat bahkan memunculkan harapan agar masa pengabdian mahasiswa diperpanjang.

Halaman:

Tags

Terkini