SketsaNusantara.id - Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Selasa, 14 Juli 2026 pagi. Aktivitas vulkanik tersebut disertai semburan kolom abu setinggi sekitar 1.200 meter di atas puncak, sementara status gunung masih berada pada Level III atau Siaga.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat agar mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan. Warga diminta tidak memasuki kawasan yang berpotensi terdampak awan panas, guguran lava, maupun aliran lahar.
Imbauan tersebut menjadi perhatian penting mengingat Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitas erupsi dapat berubah sewaktu-waktu sehingga masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diminta terus mengikuti informasi resmi dari PVMBG.
Gunung Semeru erupsi pada Selasa, 14 Juli 2026 pukul 06.51 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 1.200 meter di atas puncak. PVMBG menyatakan status gunung masih berada pada Level III (Siaga) dan mengimbau masyarakat tidak beraktivitas di zona-zona berbahaya yang telah ditetapkan.
Gunung Semeru Erupsi pada Pagi Hari
PVMBG mencatat erupsi Gunung Semeru terjadi pada pukul 06.51 WIB.
Dalam keterangan tertulisnya, tinggi kolom abu teramati mencapai sekitar 1.200 meter di atas puncak atau sekitar 4.876 meter di atas permukaan laut.
"Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur laut dan timur. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 19 mm dan durasi ± 1 menit 43 detik," tulis PVMBG.
Arah sebaran abu yang mengarah ke timur laut dan timur menjadi salah satu informasi penting untuk memantau potensi dampak aktivitas vulkanik terhadap wilayah di sekitar gunung.
Status Gunung Semeru Masih Level III (Siaga)
Hingga laporan terbaru dikeluarkan, PVMBG memastikan status aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga.
Status ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih cukup tinggi sehingga masyarakat diminta mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan. Pembatasan aktivitas di kawasan rawan menjadi langkah mitigasi untuk mengurangi risiko apabila terjadi peningkatan aktivitas gunung.