Selain itu, pelanggan yang bertempat tinggal di pondok pesantren biasanya ada larangan keluar. Jadi, mereka memanfaatkan kesempatan dengan adanya penjual seperti Yusuf.
Yusuf menambahkan, jika ada pembeli yang demikian, biasanya mereka tidak sekadar bertransaksi, namun terlebih dahulu membeli dagangannya.
Tarif yang diberlakukan tidak mahal. Yusuf hanya mematok Rp3.000 setiap transaksi. Di tempat lain, katanya, tarif per transaksi sebesar Rp5.000.
Dari layanan pembayaran digital yang ia sediakan itu, pernah ada pembeli yang tidak bawa uang, tapi membawa HP. “Waktu itu di sawah. Dia tidak bawa uang tunai tetapi bawa HP, ya akhirnya beli,” ucapnya.
Menurut Yusuf, bertransaksi keuangan secara digital lebih praktis. Tidak perlu repot membawa uang tunai dan pembayarannya pasti pas. Dia mengaku kalau belanja ke pasar lebih senang menggunakan pembayaran melalui QRIS. Ia juga tidak enggan untuk menyarankan penjual di pasar agar menyediakan layanan pembayaran digital.
“Saya sering menyarankan ke teman-teman menggunakan QRIS. Kalau pakai QRIS uang tidak cepat habis,” imbuh Yusuf yang hanya menggunakan aplikasi BRImo saat bertransaksi.
Pandangan Akademisi
Menurut Kaprodi Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Dr. Junaedi, M.E., kehadiran QRIS bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan perubahan cara masyarakat berinteraksi dalam aktivitas ekonomi.
Disebutkan, pedagang kaki lima, warung kopi, pasar tradisional, hingga pusat perbelanjaan modern kini menggunakan sistem pembayaran yang sama.
Baca Juga: Hadir di FLOII Expo 2025, BRI Tegaskan Komitmen Dukung Ekonomi Hijau Lewat Digitalisasi Transaksi
“Standardisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia membuat berbagai aplikasi pembayaran dapat saling terhubung melalui satu kode QR. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi dibingungkan oleh banyaknya jenis kode pembayaran yang berbeda,” jelas Junaedi saat ditemui di ruang kerjanya.
Dia mencatat, pertumbuhan QRIS sepanjang 2025 menunjukkan bahwa masyarakat semakin menerima transaksi digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Bahkan hingga Agustus 2025, jumlah merchant QRIS telah menembus 40 juta dan sekitar 93 persen di antaranya merupakan UMKM,” sebutnya.
Yang menarik, kata dia, perkembangan QRIS tidak hanya terlihat dari jumlah pengguna, tetapi juga dari intensitas pemakaiannya. Ia menambahkan, Bank Indonesia mencatat bahwa transaksi QRIS pada Agustus 2025 melonjak hingga 145,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.