Pernyataan tersebut kemudian memunculkan spekulasi baru di kalangan warganet. Sebagian menganggap peserta tersebut memang telah memperoleh dispensasi khusus, sementara yang lain mempertanyakan kebenaran informasi tersebut.
Di tengah ramainya perbincangan publik, Ketua Panitia Penyelenggara 1 Suro Be 1960 Mangkunegaran akhirnya buka suara Menanggapi hal tersebut. Ancillasura Marina Sudjiwo atau yang akrab disapa Gusti Sura juga memberikan klarifikasi dan meluruskan informasi yang beredar.
Melalui akun Threads pribadinya, Gusti Sura membagikan pernyataan resmi dari pihak Mangkunegaran yang menegaskan bahwa panitia tidak pernah memberikan izin maupun perlakuan khusus kepada peserta mana pun terkait aturan busana dalam kirab malam 1 Suro.
"Mangkunegaran telah mengeluarkan panduan ageman untuk ritual adat 1 Sura. Panitia penyelenggara 1 Sura BE 1960 tidak pernah memberikan izin, dispensasi ataupun perlakuan khusus kepada pihak mana pun," tegasnya, dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan pernyataan resmi pihak keraton yang diunggah di akun Threads @ancsud pada hari Kamis, 18 Juni 2026.
Dengan klarifikasi itu, pihak Mangkunegaran membantah anggapan bahwa peserta pria yang mengenakan kebaya telah memperoleh persetujuan khusus dari panitia.
Lebih lanjut, Gusti Sura menjelaskan bahwa persoalan yang ramai diperbincangkan di media sosial tersebut telah ditangani secara internal oleh pihak Keraton. Dalam unggahan lainnya, ia juga memberikan pesan menohok, "Jadi manusia itu seharusnya bisa menempatkan diri dan tau tata krama," tulisnya.
Keraton Mangkunegaran berharap kejadian seperti ini tak terulang kembali dengan tetap menjaga tradisi dan memperkuat hubungan masyarakat dengan warisan budaya Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Pihaknya juga menyampaikan apresiasi atas antusiasme masyarakat yang sangat besar dalam mengikuti kirab pusaka malam 1 Suro tahun ini.
"Terima kasih atas antusiasme masyarakat yang begitu besar dalam mengikuti peringatan Malam 1 Sura BE 1960," tulis Gusti Sura.
"Semoga semangat refleksi, ketertiban dan saling menghormati yang hadir dalam acara ini menjadi bagian dari kehidupan bersama serta memperkuat hubungan masyarakat dengan nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi," pesannya.
Terlepas dari polemik yang terjadi, perdebatan ini menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap pelestarian adat dan tradisi Jawa.
Di sisi lain, peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bahwa aturan dalam sebuah upacara adat sakral tidak hanya berkaitan dengan busana, tetapi juga menjadi bagian dari penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang dijaga selama bertahun-tahun.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini