SketsaNusantara.id - Kenaikan harga Pertamax kembali menjadi perhatian masyarakat. Di tengah perubahan harga tersebut, pemerintah memberikan penjelasan mengenai alasan penyesuaian yang dilakukan Pertamina.
Penjelasan itu disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui akun Instagram Sekretariat Kabinet. Dalam keterangannya, Teddy memaparkan sejumlah faktor yang menjadi dasar penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi tersebut.
Selain menjelaskan penyebab kenaikan, pemerintah juga membandingkan harga Pertamax dengan harga BBM sejenis di sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Teddy menjelaskan bahwa alasan pertama kenaikan Pertamax berkaitan dengan statusnya sebagai bahan bakar minyak nonsubsidi. Karena tidak menerima subsidi pemerintah, harga Pertamax mengikuti perkembangan harga minyak mentah di pasar global.
"Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia," kata Teddy.
Menurut penjelasan tersebut, mekanisme harga Pertamax berbeda dengan BBM subsidi. Hingga saat ini, pemerintah belum melakukan penyesuaian terhadap harga Pertalite dan Solar bersubsidi.
Harga Pertalite tetap berada pada angka Rp10.000 per liter. Sementara itu, Solar subsidi masih dipatok Rp6.800 per liter.
Alasan kedua yang disampaikan berkaitan dengan perkembangan harga minyak dunia. Teddy menyebut harga minyak global mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, pemerintah disebut tidak langsung melakukan penyesuaian harga. Kenaikan tersebut telah ditahan selama beberapa waktu sebelum akhirnya diberlakukan.
"Tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan," kata Teddy.
Faktor ketiga yang menjadi perhatian pemerintah adalah posisi harga Pertamax dibandingkan BBM dengan tingkat oktan setara di negara lain. Menurut Teddy, harga Pertamax di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan.
Berdasarkan data yang disampaikan, harga Pertamax di Indonesia saat ini berada pada angka Rp16.260 per liter. Angka tersebut kemudian dibandingkan dengan harga BBM RON 92 hingga RON 95 di beberapa negara.