Penelitian lanjutan menambahkan golongan AB sehingga lahirlah sistem golongan darah ABO yang digunakan hingga saat ini.
Dikutip dari laman resmi Nobel Prize, penemuan tersebut menjadi dasar bagi praktik transfusi darah modern karena memungkinkan tenaga medis mencocokkan darah pendonor dan penerima sebelum transfusi dilakukan.
Temuan ini secara signifikan menurunkan risiko komplikasi dan menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia.
Tidak berhenti di situ,Landsteiner bersama sejumlah peneliti lainnya juga melakukan penelitian faktor Rhesus (Rh) yang kini menjadi bagian penting dalam pemeriksaan darah.
Pengetahuan mengenai faktor Rh membantu dunia medis memahami kompatibilitas darah secara lebih akurat.
Atas jasanya tersebut, Karl Landsteiner dianugerahi Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada 1930.
Baca Juga: Ilmuwan Temukan Zat Besi pada Gigi Komodo, Rahasia Gigitan Mematikan Sang Predator Terungkap
Dalam catatan Nobel Prize, penghargaan itu diberikan sebagai pengakuan atas penemuannya mengenai golongan darah manusia yang membawa perubahan besar dalam dunia kedokteran.
Karena kontribusinya tersebut, WHO bersama berbagai organisasi kesehatan internasional menetapkan tanggal kelahirannya, 14 Juni, sebagai Hari Donor Darah Sedunia.
Peringatan ini sekaligus menjadi penghormatan terhadap warisan ilmiah Karl Landsteiner yang hingga kini masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di seluruh dunia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!