Tujuan orang melakukan hot box adalah sengaja menjebak asap ganja di dalam ruangan tersebut agar asapnya menggumpal tebal dan pekat.
Dijelaskan dalam situs Zinnia Health, hot boxing terjadi ketika suatu zat seperti ganja atau hashish dihisap sehingga senyawa aktifnya (seperti THC) dilepaskan ke udara.
Di lingkungan yang berventilasi normal, asap tersebut akan menyebar. Namun, di ruang tertutup, asap akan terus bersirkulasi.
Dengan begitu, semua orang yang ada di dalam ruangan akan terus-menerus menghirup kembali asap (secondhand smoke) yang melayang di udara, sehingga efek "fly" atau mabuk ganjanya menjadi jauh lebih kuat dan cepat.
Pandji menggunakan istilah ini untuk merespons pernyataan BNN yang menyebut AF positif ganja hanya karena "terpapar asap di toilet".
Secara ilmiah, seseorang memang bisa mendapati hasil tes urine positif ganja tanpa merokok langsung jika mereka terjebak di dalam situasi hot box yang sangat ekstrem (berada di ruangan sempit penuh asap ganja pekat dalam waktu yang lama).
Namun, sindiran Pandji menyoroti kejanggalan dari penjelasan BNN. Jika benar AF sampai positif hanya karena alasan "terpapar asap di toilet", artinya toilet tempat hiburan malam tersebut harus dalam kondisi berasap luar biasa pekat dalam ruangan tertutup yang seolah dibuat layaknya sebuah hot box yang disengaja.
Padahal, toilet umum atau di tempat hiburan malam biasanya memiliki ventilasi yang cukup untuk menghilangkan bau tak sedap setelah pemakaian banyak orang.
Itulah kenapa, alasan "tidak sengaja menghirup asap" sampai membuat hasil tes urine positif dirasa lucu dan terkesan seperti pembelaan yang dipaksakan.
Publik bahkan menduga penjelasan ini dilontarkan BNN karena AF adalah seorang anak Bupati, yang notabene adalah salah satu pejabat tinggi di Riau.
Jadi, lewat istilah "Hot Box" Pandji seolah-olah ingin mengatakan bahwa, apabila AF positif narkoba cuma gara-gara hisap asap di toilet sampai urinenya positif, maka ada indikasi tersangka sengaja pesta ganja ganja bareng-bareng di dalam toilet.
Sejumlah publik figur seperti Hesti Purwadinata pun ikut menyoroti kasus ini, bahkan menganggap bahwa penjelasan BNN di luar nalar.