news

Idul Adha di Masjid Al-Mustain UNDAR Jombang, Rektor Tekankan Kesalehan Sosial dan Pengorbanan Melawan Ego

Rabu, 27 Mei 2026 | 19:50 WIB
Rektor Undar Prof. Dr H Amir Maliki Abitholkha menyampaikan materi khutbah Idul Adha. (SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id — Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Al-Mustain Universitas Darul Ulum Jombang, Rabu 27 Mei 2026, pagi.

Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Rektor UNDAR Jombang, Prof. Dr. H. Amir Maliki Abitholkha, M.Ag., mengajak jamaah memaknai Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan qurban, tetapi momentum membangun kesalehan sosial dan menundukkan ego manusia.

Baca Juga: Siapa yang Berhak Menerima Daging Kurban? Ternyata Al-Qur’an dan Hadis Sudah Mengaturnya Secara Jelas

Khotbah yang dimulai pukul 06.30 WIB itu diikuti sivitas akademika dan masyarakat sekitar kampus. Dalam penyampaiannya, Prof. Amir Maliki menegaskan bahwa umat Islam memiliki dua hari raya besar yang masing-masing membawa pesan spiritual berbeda.

“Dalam setahun ada dua hari raya. Idul Fitri dan Idul Adha. Jika Idul Fitri membentuk kesalehan pribadi, maka Idul Adha menghadirkan kesalehan sosial,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Baca Juga: Beda dengan Presiden, Purbaya Beli 2 Sapi Simmetal Pakai Uang Pribadi untuk Disembelih di Hari Raya Idul Adha 2026, Kualitas Hewan Kurban Jadi Sorotan

Menurutnya, Idul Fitri merupakan puncak perjalanan spiritual Ramadan yang mengembalikan manusia kepada kesucian diri. Ia menjelaskan bagaimana Ramadan dibagi dalam tiga fase, yakni sepuluh hari pertama penuh rahmat, sepuluh hari kedua maghfirah, dan sepuluh hari terakhir pembebasan dari api neraka (itqun minannar), hingga akhirnya umat Islam kembali fitri pada 1 Syawal.

Namun berbeda dengan Idul Fitri, Idul Adha disebut sebagai Idul Akbar karena memiliki dimensi sosial yang lebih kuat. Hari raya qurban, kata dia, merupakan penegasan sejarah perjuangan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya dalam membangun ketakwaan dan pengorbanan.

Ia kemudian mengulas perjalanan Nabi Ibrahim setelah menikahi Siti Hajar dan lahirnya Nabi Ismail AS. Dari kisah itulah, menurutnya, umat Islam belajar tentang makna keluarga, keberkahan, dan pengabdian kepada Allah SWT.

Baca Juga: Hari Lanjut Usia Nasional 2026 Hadirkan Operasi Katarak dan Layanan Gratis, Ini Daerah yang Jadi Prioritas

“Tujuan pernikahan bukan hanya membangun rumah tangga, tetapi melanjutkan keturunan yang saleh,” ujarnya.

Ia juga menyinggung keberkahan yang hadir setelah kelahiran Nabi Ismail AS, salah satunya melalui munculnya air zamzam dari hentakan kaki sang nabi kecil yang hingga kini menjadi sumber kehidupan dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia.

Lebih jauh, Prof. Amir Maliki menegaskan bahwa ibadah qurban merupakan representasi nyata ketakwaan. Nilai utama qurban bukan semata pada penyembelihan hewan, tetapi pada kesediaan manusia berbagi dan berkorban demi kepentingan sosial.

Baca Juga: Siapa Woodyrman? Inilah Profil Selebgram Brunei yang Viral usai Kasus Penganiayaan Maut di Blok M Jakarta Selatan

Halaman:

Tags

Terkini