"BEM hanya ikut meramaikan yang pada dasarnya jadi keresahan kami bersama. Tentu kami ikut mendukung apapun aksi yang didasari keresahan bersama, terutama keresahan mahasiswa UGM," sambungnya.
Unggahan foto spanduk tersebut pun memicu beragam respons dari publik di media sosial. Banyak warganet yang ikut mengapresiasi tindakan mahasiswa UGM yang turut menyuarakan suara hati rakyat.
Meski begitu tak sedikit yang menyayangkan tindakan kampus yang mencopot spanduk tersebut, dan menilai aksi itu menjadi bentuk kekecewaan sebagian mahasiswa terhadap kondisi politik dan ekonomi nasional yang belakangan ramai menjadi sorotan masyarakat.
"Respect untuk mahasiswa UGM yang berani menyuarakan keresahan rakyat, sayang harus diturunkan oleh pihak kampus," komentar warganet.
"Melalui mahasiswa UGM suara hati rakyat tersalurkan, terima kasih. Meskipun cuma sebentar tapi kelihatan gagah banget spanduknya, menyala!!" imbuh warganet lainnya.
Sementara itu, pihak kampus UGM juga membenarkan adanya pemasangan baliho di area gerbang masuk kampus pada pagi hari tersebut.
Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, menyatakan bahwa kampus pada prinsipnya menghormati kebebasan berekspresi dan penyampaian aspirasi masyarakat.
Namun, Made menegaskan bahwa baliho tersebut mencatut nama UGM dan pemasangannya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku di lingkungan kampus sehingga akhirnya harus diturunkan oleh pihak kampus.
"UGM membenarkan bahwa ada baliho yang terpasang di gerbang masuk kampus pada pagi hari ini. UGM pada prinsipnya menghormati dan melindungi kebebasan berekspresi dan penyampaian aspirasi oleh setiap warga bangsa," kata Made.
"Namun baliho tersebut mencatut identitas UGM dan tidak memenuhi ketentuan yang berlaku sehingga diturunkan karena lokasi pemasangan tidak sesuai dengan peruntukan media informasi di area kampus," tegasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini