Sebagian besar karya dalam pameran ini dibuat saat dirinya tinggal di Bali, sekitar tahun 2011 hingga 2017.
Kala itu, ia memang sedang merencanakan pameran dengan tema relasi dirinya dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Namun rencana itu tak pernah terwujud.
"Setelah adik saya meninggal, untuk memulai lagi itu rasanya berat sekali. Saya selalu ingat dia. Akhirnya karya-karya itu saya bungkus dan saya anggap selesai," ungkapnya.
Beberapa lukisan pun akhirnya hanya disimpan selama bertahun-tahun tanpa pernah dibuka lagi, termasuk karya berukuran hampir tiga meter yang kini menjadi salah satu sorotan utama pameran Lika-Liku Laki-Laki.
Achmad Supandi tak pernah lagi berpikir untuk menggelar pameran tersebut, hingga ia kembali ke tanah kelahirannya, Jember.
Sampai pada pertengahan April 2026 kemarin, tiga rekannya, Edwin, Yuda, dan Adam, datang berkunjung ke rumahnya di Rambipuji.
Mereka menemukan karya-karya lama Pandi dan meyakinkannya bahwa lukisan tersebut layak dipamerkan.
"Awalnya saya berat. Saya pikir buat apa lagi. Tapi mereka terus mendesak saya untuk pameran,"
Momen paling emosional terjadi ketika karya-karya yang telah lama dibungkus itu akhirnya dibuka kembali.
"Waktu dibuka itu rasanya berat sekali. Tapi setelah dilihat lagi, ternyata masih punya energi. Dari situ saya mulai merasa mungkin memang harus diteruskan," jelasnya.
Seniman yang pernah lama berkarya di Bali ini mengatakan bahwa tujuh karya utama yang dipamerkan seluruhnya memiliki benang merah yang kuat, tentang pengalaman personal Pandi sebagai laki-laki, suami, sekaligus kepala keluarga.
Tema Lika-Liku Laki-Laki lahir dari nasihat sang ayah yang selalu diingatnya hingga kini.
"Bapak saya selalu bilang, laki-laki harus tegar. Seberat apa pun hidup di luar, jangan semua dibawa pulang dan membebani keluarga," tuturnya.