Menurutnya, penempatan gerbong khusus wanita di tengah dinilai lebih aman dalam situasi khusus maupun darurat.
“Jadi posisi paling tengah, untuk gerbongnya ya, supaya juga lebih safe dan aman,” imbuhnya.
Pernyataan Arifah tersebut memicu beragam reaksi dari netizen, yang kemudian mengungkapkannya melalui kolom komentar di akun Instagram pribadinya.
Netizen menilai, usulan Arifah untuk memindahkan gerbong wanita di tengah rangkaian bukanlah solusi.
Sejumlah netizen pun menyayangkan usulan perempuan yang menjabat sebagai Menteri PPPA itu sejak tahun 2024.
“Dear Menteri PPPA, izin, itu tidak mengatasi masalah tapi mengalihkan masalah,” komentar akun @joy******.
Pemilik akun pun mengusulkan agar disediakan gerbong tameng di akhir rangkaian KRL.
“Wajibkan ada 1 gerbong tameng di belakang kereta (KRL dan luar kota) dan di depan kereta luar kota setelah lokomotif,” tulis akun itu lagi.
Hal senada juga disampaikan pemilik akun Instagram @bo*********.
“Kenapa ibu nggak mikir gerbong depan belakang dikosongin? Kasih pengaman yang canggih, sama upgrade keamanan,” tulis akun tersebut.
Usulan ini juga memicu narasi kesetaraan gender yang disinggung sejumlah netizen.
“Nyawa adalah nyawa bu, no matter what the gender is,” tulis akun @gl***.
“Ingat bu, dengan kesetaraan gender adalah kondisi di mana laki-laki dan peremuan menikmati hak, tanggung jawab, kesempatan dan perlakukan yang setara dalam seluruh aspek kehidupan,” kata akun @de*********.
Akun tersebut juga mengungkapkan, keberadaan gerbong wanita merupakan langkah pencegahan dari pelecehan seksual.