SketsaNusantara.id - Upaya kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) kembali terungkap. Kali ini, praktik penggunaan joki berhasil digagalkan di pusat ujian Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berkat pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kasus ini mencuat setelah sistem berbasis AI yang digunakan panitia mendeteksi adanya kemiripan wajah yang mencurigakan antara dua data peserta. Teknologi tersebut mampu mengidentifikasi kesamaan hingga 95 persen, sehingga memicu pemeriksaan lebih lanjut oleh tim pengawas.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, menjelaskan bahwa sistem AI menjadi alat penting dalam memverifikasi keaslian identitas peserta sebelum ujian berlangsung.
Baca Juga: Kasus Pelecehan Santri Terungkap, Pendakwah Ahmad Al Misry Resmi Jadi Tersangka oleh Bareskrim Polri
“Tim kami mencurigai adanya penggunaan foto lama dari pendaftaran tahun sebelumnya yang digunakan kembali dengan identitas berbeda tahun ini. Analisis AI membantu verifikasi data secara presisi,” ujarnya.
Dari hasil penyelidikan, terungkap bahwa pelaku bukan peserta asli, melainkan joki yang direkrut oleh jaringan tertentu. Pelaku diketahui telah dibekali berbagai dokumen palsu untuk mengelabui sistem verifikasi.
Dokumen yang digunakan meliputi kartu identitas hingga ijazah yang telah dimanipulasi. Bahkan, dokumen tersebut dilengkapi dengan stempel basah yang sekilas tampak autentik, sehingga sulit dikenali tanpa pemeriksaan mendalam.
Pihak Unesa kemudian melakukan langkah verifikasi lanjutan dengan menghubungi sekolah asal yang tertera dalam data peserta. Hasilnya, ditemukan ketidaksesuaian yang menguatkan dugaan adanya manipulasi identitas.
Kasus ini menunjukkan bahwa praktik joki dalam UTBK masih menjadi ancaman serius bagi integritas sistem seleksi masuk perguruan tinggi. Meski demikian, penggunaan teknologi canggih seperti AI terbukti mampu menjadi solusi efektif dalam mendeteksi kecurangan yang semakin kompleks.
Martadi menegaskan bahwa sistem seleksi UTBK saat ini telah dirancang dengan pengawasan berlapis, mulai dari verifikasi data hingga pemantauan saat ujian berlangsung. Oleh karena itu, peluang untuk melakukan kecurangan semakin kecil.
Ia juga mengimbau para peserta untuk tidak tergoda oleh tawaran pihak-pihak yang menjanjikan kelulusan secara instan melalui cara ilegal. Menurutnya, kejujuran dan kesiapan akademik tetap menjadi faktor utama dalam meraih hasil terbaik.