Saat praktik lapangan, para siswa juga diajarkan langkah-langkah evakuasi mandiri, termasuk cara melindungi kepala saat gempa dan berkumpul di titik aman.
"Kami ingin anak-anak memiliki kemandirian dasar saat terjadi situasi darurat. Pengetahuan ini sangat krusial bagi mereka," ujar Tutik. Harapan Orang Tua Murid Kegiatan ini disambut positif oleh para wali murid.
Salah seorang wali murid, Sri Muamanah berharap, agar simulasi ini bukan hanya sebatas agenda sekali kalan, tapi bisa menjadi kegiatan rutin di sekolah.
"Harapannya ini bisa jadi rutinitas. Jadi, jika sewaktu-waktu ada bencana alam, anak-anak sudah memiliki insting atau kesiapan (ISP) dan tidak panik. Mereka jadi tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri," tutur Sri Muamanah.
Komitmen Mitigasi Berkelanjutan Dengan adanya simulasi ini, diharapkan SLB-C TPA Jember dapat menjadi satuan pendidikan aman bencana (SPAB) yang mampu melindungi seluruh warga sekolah, terutama para siswa dengan disabilitas intelektual, melalui prosedur tanggap darurat yang terukur dan aplikatif. ***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!