SketsaNusantara.id - Istilah "inflasi pengamat" sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Istilah tersebut belum lama ini disampaikan oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang menuai beragam respons, hingga kritik tajam dari berbagai kalangan.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan "inflasi pengamat"? Kenapa istilah ini menjadi ramai diperbincangkan hingga menuai kritik dari masyarakat?
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman resmi Presiden RI, "Inflasi pengamat" merupakan istilah yang digunakan Seskab Teddy untuk menggambarkan fenomena menjamurnya pihak-pihak yang mengaku sebagai pengamat atau analis di berbagai bidang, namun dinilai tidak memiliki kompetensi atau data yang memadai.
Menurutnya, saat ini semakin banyak individu yang memberikan komentar terkait isu-isu strategis, mulai dari pangan, militer, hingga hubungan luar negeri.
Namun, pengamat tersebut dinilai menyampaikan pernyataan tanpa didukung latar belakang keahlian yang relevan dan data yang akurat.
Fenomena ini mempengaruhi publik karena seringkali pengamat tersebut menggunakan data yang keliru dan berpotensi bisa menimbulkan kesalahpahaman publik.
"Ada satu fenomena yang namanya inflasi pengamat. Jadi banyak sekali pengamat. Ada pengamat beras, pengamat luar negeri, tapi dia backgroundnya bukan di situ," kata Seskab Teddy pada hari Jumat, 10 April 2026.
"Pengamat-pengamat itu bicaranya tidak sesuai fakta. Datanya keliru, dan teman-teman coba anda perhatikan. Dari sebagian besar, pengamat-pengamat itu adalah pengamat-pengamat yang sejak dulu sudah berusaha mempengaruhi warga, membentuk opini publik," tuturnya.
Seskab Teddy memyoroti perkataan para pengamat yang mendistorsi pemahaman masyarakat terhadap kondisi sebenarnya. Ia menyebut, tidak sedikit analisis yang beredar justru tidak relevan dengan fakta di lapangan.
Bahkan, menurutnya, fenomena ini sudah berlangsung sejak lama. Ia juga menyinggung bahwa opini yang tidak berbasis data kerap digunakan untuk membentuk persepsi tertentu di tengah masyarakat.