Ia memberi contoh sederhana terkait pembangunan infrastruktur di daerah yang terkadang terhambat karena perdebatan tanpa ada solusi berkelanjutan.
"Kritik boleh. Misalnya ada pembangunan jembatan di desa, lalu ada yang tidak setuju dan terus mengkritik tanpa solusi, akhirnya tidak jadi-jadi, padahal kita bangun itu untuk kepentingan rakyat," jelasnya.
Prabowo juga menyoroti kebebasan berekspresi dan perbedaan pendapat di era digital saat ini. Namun, ia menyinggung adanya sikap negatif yang menimbulkan kebencian hingga penyebaran informasi yang tidak benar.
Menurutnya, hal ini menjadi ancaman terhadap persatuan bangsa yang tidak lagi dilakukan melalui serangan fisik, melainkan bisa datang dari penyebaran hoaks dan manipulasi informasi di media sosial.
"Jadi, ini bukan fenomena baru. Biasanya ada bibit-bibit, dengki, iri, syirik itu bagian dari manusia ya. Kebencian, dendam, sakit hati, apalagi sekarang teknologi sudah maju ada AI," ujarnya.
"Kalau dulu mau merusak negara kita serang kirim pasukan, kirim bom, sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan sosmed, dengan menyebar fitnah, hoax, itu bisa memecah belah kita," imbuhnya.
Pada kesempatan itu, Prabowo juga meminta masyarakat untuk menyebarkan hal positif dan tetap percaya pada kekuatan bangsa Indonesia dengan mengesampingkan ego pribadi.
"Makanya kita harus percaya dengan kekuatan kita sendiri, Percayalah pada Indonesia. Karena kita tidak sadar betapa kaya dan besarnya bangsa Indonesia, betapa kuatnya bangsa ini," kata Prabowo.
"Kita sebagai pemimpin, juga jangan terbawa pemikiran kita yang jangka pendek dan juga jangan terbawa oleh ambisi dan ego kita masing-masing," pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini