Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumsi listrik di rumah pasangan lansia tersebut relatif kecil.
Bahkan disebutkan bahwa token listrik terakhir di rumah mereka diisi pada Desember 2025, dan hingga kini masih bertahan cukup lama karena penggunaan listrik yang sangat hemat.
Meski penggunaan listrik sangat kecil, petugas yang datang disebut tetap mempertanyakan kondisi tersebut.
Menurut keterangan yang beredar, petugas mempertanyakan mengapa token listrik tidak cepat habis dan jarang diisi.
Hal tersebut kemudian memunculkan dugaan adanya masalah pada meteran listrik yang digunakan di rumah pasangan lansia tersebut.
Namun warga yang berada di lokasi disebut telah mencoba menjelaskan bahwa pasangan lansia tersebut memang dikenal hidup sederhana dan menggunakan listrik secara sangat hemat.
Dalam unggahan itu dijelaskan bahwa warga sekitar mencoba menjelaskan bahwa pasangan lansia tersebut tidak mencuri arus listrik dan memang hidup sangat sederhana dengan penggunaan listrik yang minim.
Meski telah mendapat penjelasan dari warga, petugas disebut tetap mengambil tindakan dengan mencabut meteran listrik yang lama.
Akhirnya meteran listrik lama dicabut dan kemudian diganti dengan meteran baru.
Pasangan lansia tersebut juga diminta membayar sejumlah biaya yang dinilai cukup besar bagi kondisi ekonomi mereka.
Hal yang semakin membuat warga merasa prihatin adalah sumber uang yang digunakan untuk membayar biaya tersebut.
Disebutkan bahwa uang sebesar Rp600 ribu itu bahkan diambil dari tabungan BLT yang sebelumnya diterima oleh pasangan lansia tersebut.
Kondisi ini memicu keprihatinan warga sekitar karena pasangan lansia tersebut dinilai hidup dalam keterbatasan.
Peristiwa tersebut kemudian menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat yang berharap adanya klarifikasi dari pihak terkait.