Sejak konflik pecah, harga minyak mentah dunia sempat melonjak di atas 70 dolar AS per barel dari posisi sebelumnya di kisaran 60 dolar AS.
Namun, harga minyak sempat melandai setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan gencatan senjata menyusul serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Qatar pada pertengahan 2025.
Pergerakan harga ini menunjukkan bahwa minyak tidak hanya dipengaruhi faktor pasokan dan permintaan, tetapi juga persepsi pasar terhadap risiko geopolitik.
Beruntung, harga minyak acuan Indonesia masih berada di bawah asumsi APBN. Tahun lalu, Indonesian Crude Price (ICP) berada di kisaran 70 dolar AS per barel, sementara pada Mei 2025 berada di level 62 dolar AS per barel.
Perang di wilayah strategis minyak memperbesar tekanan ekonomi Indonesia yang juga tengah menghadapi dampak kebijakan tarif global dan pengetatan fiskal negara maju.
Para pakar menyebut kombinasi kenaikan harga akibat disrupsi geopolitik dan perlambatan ekonomi global menjadi risiko serius.
Inflasi bisa meningkat di tengah pertumbuhan ekonomi yang melemah, yang pada akhirnya memengaruhi nilai tukar dan suku bunga global.
Menanggapi hal ini, Pertamina menyatakan telah mengantisipasi potensi gangguan sejak ketegangan di Iran meningkat, sejak gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat dilakukan pada pertengahan 2025 lalu.
Perwakilan Pertamina menyatakan pihaknya telah menyiapkan mitigasi berupa rute alternatif apabila eskalasi konflik meningkat dan akses Selat Hormuz benar-benar terganggu.
"Pertamina sendiri sudah melakukan e-monitoring dan meningkatkan pengawasan terhadap pergerakan kapal-kapal tanker kami, khususnya yang memasok minyak mentah dari Timur Tengah dan sekitarnya ke wilayah Indonesia," ujar salah satu perwakilan Pertamina dikutip SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Kompas TV.
"Melalui Pertamina International Shipping, kami memastikan seluruh kapal yang melewati rute internasional dalam kondisi aman sehingga pasokan masih berjalan normal," ujarnya.
Langkah ini diambil mengingat salah satu kilang minyak terbesar Indonesia di Cilacap masih sangat bergantung pada suplai minyak mentah jangka panjang dari Arab Saudi melalui perusahaan energi raksasa Saudi Aramco. Jika jalur distribusi terganggu, rantai pasok energi ke Indonesia berisiko tersendat.