Sebanyak 25 ton kotoran domba digunakan untuk menyuburkan tanah. Biaya pupuk berhasil ditekan hingga 50 persen.
Untuk mengatasi krisis air, sistem irigasi tetes dirakit bersama warga. Cara ini menghemat penggunaan air hingga 60 persen.
Inovasi berlanjut pada tata niaga hasil pertanian. Kelompok Taruna Muda memotong rantai distribusi dengan menjual langsung ke pasar induk.
Hasil panen dipasarkan ke Kemang dan Kramat Jati. Pendapatan kelompok tani meningkat signifikan.
Sepanjang 2024 hingga 2025, unit usaha cabai mencatat laba bersih Rp246.258.000. Pendapatan kelompok naik hingga 65 persen.
Program ini juga membuka jalan baru bagi mantan pelaku PETI. Delapan orang kini beralih menjadi petani produktif.
Secara makro, kolaborasi tersebut mencatat SROI sebesar 4,34. Tingkat kemiskinan desa turun hingga 6,52 persen.
Atas dedikasinya, Wahyu menerima Environmental and Social Innovation Award 2025 sebagai Local Hero Inspiratif. Penghargaan itu menegaskan dampak nyata yang dihadirkan.
Semangat perubahan berlanjut melalui Rumah Belajar Garitan. Tempat ini telah dikunjungi lebih dari 696 orang.
Regenerasi petani muda juga mulai tumbuh. Inisiatif ini melahirkan harapan baru bagi desa.
Perjalanan Wahyudin menegaskan bahwa perubahan berawal dari langkah kecil. Ketekunan merawat tanah menjadi fondasi membangun masa depan desa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!