Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa lubang raksasa tersebut bukan fenomena sinkhole. Menurutnya, kejadian itu disebabkan oleh aktivitas longsoran tanah yang berlangsung lama.
“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” kata Adrin dalam keterangannya, Sabtu, 21 Februari 2026.
Ia menambahkan, wilayah tersebut tidak memiliki batu gamping yang biasanya memicu sinkhole. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah riwayat gempa bumi di Aceh Tengah. Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo pada 2013 diduga memperlemah struktur lereng.
Selain gempa, keberadaan saluran irigasi di area persawahan juga berperan besar. Penyerapan air yang intens membuat tanah semakin rapuh. Kondisi ini memicu pergerakan tanah yang terus berlangsung hingga sekarang.
Perkembangan lubang raksasa tersebut masih terus dipantau. Upaya mitigasi dan pembukaan jalur baru menjadi prioritas demi menjaga keselamatan warga. Akses yang aman menjadi kebutuhan mendesak di tengah kondisi geologi yang tidak stabil.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!