SketsaNusantara.id - Setiap memasuki bulan suci Ramadhan hingga Idul Fitri, masyarakat Indonesia hampir selalu dihadapkan pada masalah klasik, yakni meroketnya harga bahan pokok.
Menurut Profesor Dwi Andreas Santosa, seorang Guru Besar IPB sekaligus Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), fenomena ini bukanlah sekadar kebetulan.
Fenomena ini dipengaruhi oleh banyaknya pedagang yang masih berada di dikampung halaman sehingga pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi dan sebab lainnya.
Baca Juga: Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 Tanpa Antre Panjang, Buruan Keburu Kehabisan!
Kenaikan harga bahan pokok yang terjadi berulang setiap memasuki Ramadhan menurutnya merupakan hasil dari kombinasi masalah tata kelola dan siklus produksi.
Dengan tegas ia mengatakan bahwa penilaian pergerakan harga hanya terjadi pada saat Ramadhan dan Hari Raya merupakan penilaian yang kurang tepat sebab seharusnya menilai harga dilihat dari pergerakan tahunan.
"Sebenarnya pemerintah perlu meningkatkan cadangan terutama untuk komoditas penting karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh pemerintah," ungkap Dwi Andreas dikutip dari kanal YouTube Trijaya FM.
"Sehingga ketika harga naik, pemerintah melepaskan cadangannya untuk dilepaskan ke pasar dan sudah barang tentu pelepasan cadangan ke pasar itu juga harus terkontrol hanya di wilayah tertentu di mana daya beli masyarakat memang rendah," tegasnya.
Baca Juga: Mau Tetap Sehat Bonus Langsing saat Lebaran? Ini Tips Kurus dan Sehat Tercepat ala dr. Tejo Katon
Dwi Andreas memaparkan bahwa pemerintah dalam hal ini pemegang kendali utama dan harus fokus pada daerah tertentu yang memang betul-betul membutuhkan untuk melepaskan cadangannya.
Menurutnya pemerintah tak bisa mengendalikan niat beli masyarakat pada bahan pokok tertentu namun hanya bisa mengantisipasi penurunan produksi domestik dengan menyiapkan cadangan.
Untuk konsumen, Dwi Andreas juga mengingatkan agar tidak terlalu meributkan naiknya harga-harga sebab dengan naiknya harga maka konsumen telah mentransformasi ke petani dengan baik.
"Ini yang sering kurang dipahami, terutama pemerintah sehingga ketika terjadi kenaikan harga dicari-cari siapa yang bersalah sehingga kambing putih di cat hitam," tegasnya.
Guru Besar IPB tersebut menegaskan bahwa kenaikan pasar dari 20 hingga 30 persen merupakan hal yang wajar terjadi menjelang hari besar.