Padi kemudian menjadi komoditas pokok masyarakat Indonesia. Mitologi tentang Dewi Sri mengiringi proses tanam hingga panen. Dalam rumah tradisional Jawa, terdapat ruang tengah khusus. Ruangan itu dihiasi ukiran ular sebagai lambang Dewi Sri dan kemakmuran.
Di Bali, masyarakat menyediakan kuil kecil di area persawahan. Tempat itu digunakan untuk memuja Dewi Sri. Masyarakat Sunda juga memiliki perayaan khusus yang dipersembahkan untuknya. Semua ritual tersebut bertujuan menjaga keseimbangan alam dan hasil panen.
Versi lain dari Jawa Timur menceritakan Dewi Sri sebagai saudara Raden Sadhana. Ayah mereka adalah Prabu Purwacarita.
Karena menolak tinggal di keraton, keduanya dikutuk. Dewi Sri berubah menjadi ular sawah, sedangkan Raden Sadhana menjadi burung sriti.
Dalam perjalanannya, ular sawah berhenti di Dusun Wasutira. Ia melingkar di tengah padi dan menjaga bayi dalam kandungan Ken Sanggi. Ular itu berpesan agar tidak diberi makan katak. Ia meminta sesaji berupa sirih ayu, bunga, dan lampu menyala.
“Agar jangan diberi makan katak melainkan sesaji berupa sirih ayu, bunga serta lampu yang menyala terus.”
Berkat penjagaan itu, bayi perempuan lahir dengan selamat. Bayi tersebut diyakini sebagai titisan Dewi Tiksnawati. Kisah ini berlanjut hingga Dewi Sri akhirnya diruwat kembali ke wujud aslinya dan moksa ke kahyangan.
Sebelum pergi, Dewi Sri berpesan agar keluarga Kyai Brikhu memberi sesaji di ruang tengah. Pesan itu dipercaya menjaga kecukupan sandang dan pangan. Tradisi tersebut terus diwariskan lintas generasi.
Itulah sebabnya pada sethong tengah pada rumah Jawa selalu diberi gambar ular naga sebagai lambang kewanitaan.
Hingga kini, kepercayaan terhadap Dewi Sri masih mengakar. Ular sawah yang masuk rumah tidak diusir. Ia dianggap pertanda rezeki dan panen baik. Dari sawah hingga ruang keluarga, mitologi Dewi Sri terus hidup dalam keseharian masyarakat Nusantara.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!