news

Miskomunikasi Internal Picu Masalah Distribusi Makan Bergizi Gratis di Jember

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:18 WIB
Pj Sekda Akhmad Helmi (tengah) saat sidak. (M Purnomo/SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember tengah menjadi sorotan tajam, setelah sejumlah laporan masyarakat di media sosial mengungkap adanya ketidaksesuaian porsi nutrisi yang diterima siswa.

Menanggapi keresahan tersebut, Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Jember melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Sriwijaya, Kecamatan Sumbersari, Jumat 30 Januari 2026.

Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Jember, Akhmad Helmi Luqman, mengungkapkan bahwa investigasi lapangan ini merupakan instruksi langsung dari Bupati Jember guna mengklarifikasi temuan menu yang dianggap jauh di bawah standar kesehatan anak.

Baca Juga: Tembus 11 Ribu Aduan, Pemkab Jember Sebut Permintaan Perbaikan Jalan yang Mendominasi

"Berdasarkan hasil evaluasi tim Satgas di lapangan, ditemukan beberapa persoalan mendasar yang menyebabkan program ini tidak berjalan maksimal," ujarnya.

Pertama, adanya kegagalan distribusi porsi di jenjang Taman Kanak-kanak, porsi makanan yang diterima siswa jauh dari perencanaan awal.

"Sebagai contoh, menu yang seharusnya berisi tiga tusuk sate hanya tersaji satu tusuk saat sampai ke tangan siswa," imbuhnya.

Baca Juga: Pemkab Jember Luncurkan Gerakan 1.200 Nakes, Akhiri Ego Sektoral Demi Tekan Stunting dan AKI-AKB

Kedua, lemahnya manajemen internal. Helmi menegaskan bahwa masalah ini berakar pada buruknya koordinasi antara kepala dapur, tenaga ahli gizi, dan relawan pendistribusian. Ketidaksinkronan ini memicu kesalahan eksekusi di lapangan.

Ketiga, terkait dengan adanya Kendala Anggaran dan Petunjuk Teknis. Pihak pengelola dapur menjelaskan bahwa saat ini mereka masih menggunakan anggaran lama sebesar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per porsi.

"Sesuai juknis yang berlaku, sehingga belum bisa menerapkan standar anggaran Rp15.000 yang sempat beredar di publik," paparnya.

Baca Juga: Gandeng Pemkab Jember, Kepala BKN Prof Zudan Ingatkan ASN Fokus Pastikan Kesejahteraan Rakyat

Keempat, ketidakefektifan substitusi nutrisi. Helmi menyebut, terjadi miskomunikasi terkait penggantian menu buah menjadi susu segar.

"Di salah satu sekolah, susu tersebut justru tidak tersampaikan ke siswa dan dikembalikan ke dapur, sehingga nutrisi tambahan tersebut mubazir," pungkasnya.

Halaman:

Tags

Terkini