SketsaNusantara.id - Peristiwa longsor kembali menelan korban jiwa. Sebuah longsor senderan tebing proyek penataan lahan terjadi di wilayah Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, pada Jumat, 23 Januari 2026.
Insiden tersebut mengakibatkan dua orang pekerja meninggal dunia, sementara dua lainnya berhasil diselamatkan dalam kondisi luka-luka.
Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 10.30 WITA di Jalan Alas Arum, Banjar Mekar Sari.
Baca Juga: Kronologi Dugaan Pelecehan Seksual di KRL Bogor-Depok Baru, Korban Ungkap Kejadian dan Apresiasi Kesigapan Petugas
Berdasarkan informasi yang dihimpun SketsaNusantara.id dari unggahan akun Al Biham di Grup Facebook INFO MASYARAKAT PROBOLINGGO, longsor terjadi secara tiba-tiba saat para pekerja tengah melakukan aktivitas konstruksi di area proyek penataan lahan yang berada di kontur tebing.
Salah satu saksi, Mohammad Sofyan, yang juga merupakan buruh proyek, mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, dirinya sedang bekerja di bagian bawah bersama beberapa pekerja lain.
“Sekitar pukul 09.30 WITA saya sedang bekerja di bagian bawah bersama lima orang lainnya untuk melakukan pemasangan batu,” ujarnya sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id dari laporan yang beredar.
Berdasarkan informasi yang dihimpun SketsaNusantara.id dari unggahan akun Al Biham di Grup Facebook INFO MASYARAKAT PROBOLINGGO, longsor terjadi secara tiba-tiba saat para pekerja tengah melakukan aktivitas konstruksi di area proyek penataan lahan yang berada di kontur tebing.
Salah satu saksi, Mohammad Sofyan, yang juga merupakan buruh proyek, mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, dirinya sedang bekerja di bagian bawah bersama beberapa pekerja lain.
“Sekitar pukul 09.30 WITA saya sedang bekerja di bagian bawah bersama lima orang lainnya untuk melakukan pemasangan batu,” ujarnya sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id dari laporan yang beredar.
Tak lama berselang, suara gemuruh terdengar dari arah atas tebing. Sofyan menyebutkan bahwa pada saat itu terdapat tiga orang pekerja lain yang sedang mengaduk material menggunakan mesin molen di bagian atas.
“Saya mendengar suara longsor dari arah atas,” katanya. Menyadari adanya bahaya, ia segera menyelamatkan diri menjauh dari lokasi.
Namun, situasi belum sepenuhnya aman. Setelah longsor berhenti, Sofyan kembali naik ke area atas dengan niat memberikan pertolongan.
Baca Juga: Tuntaskan S2 dan S3 dalam Empat Tahun, Dee Angela Kamil Raih Gelar Doktor Ilmu Komputer di Usia 26 Tahun
Di tengah kepanikan, dua rekan kerjanya dari arah bawah justru meminta bantuan karena terjebak reruntuhan. Para pekerja kemudian berupaya mengevakuasi korban dan membawa mereka ke fasilitas kesehatan terdekat.
Kesaksian lain disampaikan oleh Nyoman Lanus, buruh proyek yang berada di lokasi kejadian.
Ia menjelaskan bahwa saat longsor terjadi, dirinya tengah mengerjakan pondasi cakar ayam di bagian utara proyek.
“Saya mendengar reruntuhan senderan tebing dari arah atas sungai kering,” tuturnya.
Melihat kondisi tersebut, Nyoman bersama pekerja lain langsung mendekati lokasi longsor. Ia menyebut senderan penahan jalan roboh dan menimpa sejumlah pekerja yang berada di bawahnya.
Dalam kondisi darurat, para pekerja saling bahu-membahu untuk mengevakuasi korban yang tertimbun material longsor.
Nyoman mengaku berhasil menyelamatkan dua korban, yakni Farhan Yudistian dan Joko Sambang. Ia menggambarkan kondisi keduanya cukup memprihatinkan.
“Saudara Joko tertimbun di bagian kaki sampai pinggang, sedangkan saudara Farhan sempat tertimbun dan tertimpa batu,” ujarnya.
Farhan mengalami luka serius, termasuk memar di wajah, luka di dada, serta pendarahan dari telinga. Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Bali Jimbaran untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, setelah menjalani perawatan, Farhan dinyatakan meninggal dunia.
Sementara itu, korban meninggal lainnya adalah Shohibul Hasan, seorang pekerja asal Probolinggo. Ia dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat tertimbun reruntuhan bangunan.
Berdasarkan laporan, korban mengalami luka fatal, termasuk patah tulang leher.
Dua pekerja lainnya, Mohammad Waki dan Joko Sambang, berhasil selamat meski mengalami luka akibat tertimbun material longsor.
Keduanya sempat mendapatkan perawatan medis lanjutan setelah dievakuasi dari lokasi.
Sekitar pukul 13.00 WITA, tim Basarnas Kabupaten Badung tiba di tempat kejadian perkara dan langsung melakukan proses evakuasi menggunakan alat berat.
Setengah jam kemudian, korban berhasil ditemukan dan dievakuasi ke Rumah Sakit Sanglah untuk penanganan lebih lanjut.
Insiden ini menyisakan duka mendalam, terutama bagi keluarga korban. Kejadian tersebut juga menjadi sorotan terkait aspek keselamatan kerja di proyek konstruksi yang berada di area rawan longsor dan kontur tanah yang labil.
Peristiwa longsor di Ungasan ini kembali mengingatkan pentingnya penerapan standar keselamatan kerja yang ketat, terutama di proyek-proyek yang berlokasi di kawasan perbukitan dan tebing.
Pengawasan teknis serta mitigasi risiko dinilai menjadi hal krusial untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Hingga kini, pihak terkait masih melakukan pendalaman terkait penyebab pasti longsor senderan tebing tersebut, termasuk kemungkinan faktor cuaca, struktur tanah, maupun metode pengerjaan proyek.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan pekerja harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas konstruksi, demi mencegah hilangnya nyawa akibat kelalaian atau risiko alam yang tidak diantisipasi secara optimal.***
Di tengah kepanikan, dua rekan kerjanya dari arah bawah justru meminta bantuan karena terjebak reruntuhan. Para pekerja kemudian berupaya mengevakuasi korban dan membawa mereka ke fasilitas kesehatan terdekat.
Kesaksian lain disampaikan oleh Nyoman Lanus, buruh proyek yang berada di lokasi kejadian.
Ia menjelaskan bahwa saat longsor terjadi, dirinya tengah mengerjakan pondasi cakar ayam di bagian utara proyek.
“Saya mendengar reruntuhan senderan tebing dari arah atas sungai kering,” tuturnya.
Melihat kondisi tersebut, Nyoman bersama pekerja lain langsung mendekati lokasi longsor. Ia menyebut senderan penahan jalan roboh dan menimpa sejumlah pekerja yang berada di bawahnya.
Dalam kondisi darurat, para pekerja saling bahu-membahu untuk mengevakuasi korban yang tertimbun material longsor.
Nyoman mengaku berhasil menyelamatkan dua korban, yakni Farhan Yudistian dan Joko Sambang. Ia menggambarkan kondisi keduanya cukup memprihatinkan.
“Saudara Joko tertimbun di bagian kaki sampai pinggang, sedangkan saudara Farhan sempat tertimbun dan tertimpa batu,” ujarnya.
Farhan mengalami luka serius, termasuk memar di wajah, luka di dada, serta pendarahan dari telinga. Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Bali Jimbaran untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, setelah menjalani perawatan, Farhan dinyatakan meninggal dunia.
Sementara itu, korban meninggal lainnya adalah Shohibul Hasan, seorang pekerja asal Probolinggo. Ia dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat tertimbun reruntuhan bangunan.
Berdasarkan laporan, korban mengalami luka fatal, termasuk patah tulang leher.
Dua pekerja lainnya, Mohammad Waki dan Joko Sambang, berhasil selamat meski mengalami luka akibat tertimbun material longsor.
Keduanya sempat mendapatkan perawatan medis lanjutan setelah dievakuasi dari lokasi.
Sekitar pukul 13.00 WITA, tim Basarnas Kabupaten Badung tiba di tempat kejadian perkara dan langsung melakukan proses evakuasi menggunakan alat berat.
Setengah jam kemudian, korban berhasil ditemukan dan dievakuasi ke Rumah Sakit Sanglah untuk penanganan lebih lanjut.
Insiden ini menyisakan duka mendalam, terutama bagi keluarga korban. Kejadian tersebut juga menjadi sorotan terkait aspek keselamatan kerja di proyek konstruksi yang berada di area rawan longsor dan kontur tanah yang labil.
Peristiwa longsor di Ungasan ini kembali mengingatkan pentingnya penerapan standar keselamatan kerja yang ketat, terutama di proyek-proyek yang berlokasi di kawasan perbukitan dan tebing.
Pengawasan teknis serta mitigasi risiko dinilai menjadi hal krusial untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Hingga kini, pihak terkait masih melakukan pendalaman terkait penyebab pasti longsor senderan tebing tersebut, termasuk kemungkinan faktor cuaca, struktur tanah, maupun metode pengerjaan proyek.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan pekerja harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas konstruksi, demi mencegah hilangnya nyawa akibat kelalaian atau risiko alam yang tidak diantisipasi secara optimal.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!