SketsaNusantara.id – Proses pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, akhirnya berakhir memilukan.
Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI M. Syafii, memberikan pernyataan resmi terkait kondisi para korban kemungkinan tidak ada yang selamat.
Jika sebelumnya semua pihak berharap ada mukjizat 9 korban yang belum ditemukan bisa selamat maka lewat pernyataan resmi Basarnas semua harapan seolah telah tiada.
Baca Juga: Terpisah dari Rombongan, Pendaki Bukit Mongkrang Lereng Gunung Lawu Dilaporkan Hilang?
"Tidak ada (yang selamat) saya sampaikan kita tetap mengharapkan ada mukjizat ada korban yang ditemukan hidup," ungkap Kepala Basarnas Syafii dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV.
Syafii juga mengungkapkan tantangan terbesar saat ini dalam mencari korban adalah keadaan cuaca yang buruk yang menjadi penghambat.
Dalam kesempatan tersebut ia juga meluruskan spekulasi yang beredar di masyarakat mengenai sinyal aktivitas digital dari salah satu kru pesawat.
Sebelumnya, publik sempat dihebohkan dengan video viral dari keluarga Co-Pilot Muhammad Farhan Gunawan yang menumbuhkan harapan ia masih bertahan hidup.
Dimana pihak keluarga mengeklaim bahwa smartwatch Farhan masih mencatat aktivitas hingga 13.000 langkah setelah kecelakaan sehingga hal itu memicu harapan bahwa Farhan masih hidup di dalam hutan.
"Terkait pergerakan dari smartphone kita sudah dibantu Polda Sulawesi Selatan dan yang bersangkutan sudah diminta keterangan setelah dibuka rekaman itu beberapa waktu yang lalu waktu korban masih di Yogyakarta," ungkap Syafii.
Setelah dilakukan penelusuran digital oleh Basarnas bekerja sama dengan Cyber Polda Sulsel, ditemukan fakta bahwa langkah tersebut merupakan data lama.
Rekaman langkah kaki yang terdeteksi di aplikasi tersebut ternyata merupakan data aktivitas beberapa bulan lalu saat Farhan masih berada di Yogyakarta.