SketsaNusantara.id – Mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi dunia yang saat ini berada dalam keadaan genting.
Melalui akun X pribadinya, pendiri Partai Demokrat ini mengamati kondisi dunia saat ini yang dinilai semakin mirip dengan situasi menjelang Perang Dunia I dan II.
SBY bahkan menyebut adanya kemungkinan besar situasi genting saat ini bisa memicu Perang Dunia III.
"Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini," tulisnya dikutip SketsaNusantara.id dari cuitan akun X @SBYudhoyono yang diunggah hari Senin, 19 Januari 2026.
"Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga," imbuhnya.
Dalam cuitannya, SBY kilas balik tentang dua perang dunia (PD) sebelumnya, menyebutkan bagaimana blok-blok negara saling berhadapan, munculnya pemimpin-pemimpin yang haus konflik, pembangunan kekuatan militer besar-besaran, serta persiapan ekonomi yang diarahkan ke mesin perang.
Sebagai tokoh yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian, serta sejarah peperangan dunia, SBY mengaku cemas dan khawatir terhadap arah perkembangan dunia dalam tiga tahun terakhir, khususnya beberapa bulan terakhir yang semakin memanas.
Menurut SBY, tanda-tanda ini perang dunia kini mulai terlihat lagi di panggung global. Ia menilai bahwa peluang untuk mencegah konflik global berskala besar kini semakin sempit dari hari ke hari.
"Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit," ujarnya.
"Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini," sambungnya.
"Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas," tutur SBY.
Lebih jauh, SBY mengingatkan bahwa meskipun sejarah telah mencatat tanda-tanda perang besar sebelumnya, sering kali dunia tidak mampu mengambil langkah nyata untuk mencegahnya.