SketsaNusantara.id - Kampung Wisata Dewa Bronto berkembang sebagai destinasi wisata berbasis sosial dan pendidikan di Yogyakarta. Kawasan ini berada di bantaran Daerah Aliran Sungai Code bagian selatan. Lingkungannya dikenal sebagai ruang wisata alternatif dengan pendekatan edukasi masyarakat.
Wilayah Kampung Wisata Dewa Bronto secara administratif berada di Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan. Nama Dewa Bronto merupakan singkatan dari CoDE Wisata Alternatif Brontokusuman.
Kawasan ini tumbuh di sekitar permukiman lama yang mengelilingi Dalem Brontokusuman.
Dilansir dari Jogjakota.go.id Dalem Brontokusuman memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Keraton Yogyakarta.
Bangunan ini dahulu menjadi tempat tinggal salah satu putri Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Putri tersebut bernama Gusti Bendara Raden Ayu Brontokusumo, putri kedelapan dari permaisuri GKR Kencana.
Dalam tradisi Keraton Yogyakarta, raja menyediakan tempat tinggal bagi putra dan putrinya. Namun, bagi putri keraton, penggunaan dalem bersifat hak pakai selama masih hidup. Setelah wafat, bangunan tersebut dikembalikan kepada keraton.
Setelah GBRAy Brontokusumo wafat, Dalem Brontokusuman sempat dibiarkan kosong dalam waktu cukup lama. Pada masa Presiden Soekarno, halaman depan dalem digunakan untuk mendirikan Museum Perjuangan. Museum ini menyimpan berbagai peninggalan masa perjuangan kemerdekaan.
Pada periode berikutnya, dalem tersebut ditempati GBPH Puger, putra bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Sejak saat itu, bangunan dikenal sebagai Dalem Pugeran. Meski demikian, nama kampung tetap dikenal sebagai Brontokusuman.
Kampung Wisata Dewa Bronto mengembangkan daya tarik berupa blusukan kampung khas Yogyakarta. Wisatawan juga dapat mengikuti kegiatan susur bantaran Sungai Code. Jalur susur sungai dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau bersepeda sejauh sekitar 1.200 meter.
Salah satu paket unggulan adalah “Sinau Sejarah Meneh”. Paket ini mengajak wisatawan mengunjungi Museum Perjuangan dan Ndalem Pugeran. Rangkaian kunjungan juga mencakup makam KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Wisatawan juga diajak mengunjungi Pasar Telo Karang Kajen. Pasar tradisional ini dikenal sebagai pusat perdagangan ketela. Dari bahan tersebut lahir kuliner khas Kampung Wisata Dewa Bronto berupa sate telo.
Selain kuliner, kampung ini memiliki potensi kerajinan lokal. Di antaranya batik dengan pewarna alam, pembuatan blangkon, surjan, serta kerajinan berbahan daur ulang sampah. Seluruh aktivitas melibatkan partisipasi warga setempat.