SketsaNusantara.id - Warga di sejumlah wilayah Aceh Tengah masih menghadapi keterbatasan akses jalan aman. Kondisi tersebut terjadi pascabanjir bandang dan longsor akhir November 2025 lalu.
Salah satu akses vital yang terdampak adalah jembatan penghubung Desa Reje Payung dan Desa Jamat. Jembatan tersebut berada di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.
Akses itu sebelumnya menjadi jalur utama mobilitas warga antar desa. Namun, derasnya arus sungai dan longsor menyebabkan jembatan permanen putus.
Baca Juga: Video Guru Aceh Tengah Menyeberangi Sungai Deras Viral dan Tuai Perhatian Publik
Untuk bertahan, warga memanfaatkan jembatan tali darurat sebagai satu-satunya jalur penyeberangan. Jembatan tali tersebut digunakan warga untuk aktivitas harian dan distribusi bantuan.
Insiden terjadi pada Selasa, 6 Januari 2026 sekitar pukul 11.00 WIB. Tali jembatan darurat dilaporkan putus saat sedang dilintasi warga dan relawan.
Saat kejadian, mereka tengah menyalurkan bantuan logistik ke Desa Reje Payung. Peristiwa tersebut terekam dalam video yang diunggah Dinas Kominfo Aceh Tengah.
Baca Juga: Sumur Bor Korban Banjir Disebut Capai Rp150 Juta, Warga Aceh Timur Unggah Bukti Sumur Rp15 Juta
Video tersebut diunggah melalui akun Instagram resmi pada Rabu, 7 Januari 2026. Dalam rekaman terlihat beberapa orang terjatuh ke sungai berarus deras.
Arus sungai sempat menghanyutkan korban beberapa meter dari lokasi jembatan. Warga bersama anggota TNI yang berada di sekitar lokasi langsung melakukan penyelamatan.
Mereka turun ke sungai untuk mengevakuasi korban dari derasnya arus. Berdasarkan laporan, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Setelah kejadian, perbaikan jembatan langsung dilakukan pada hari yang sama. Langkah itu diambil agar mobilitas warga tidak terhenti terlalu lama.
“Jembatan tali yang tadi siang terjadi insiden putus saat warga melansir logistik, Alhamdulillah berkat kerja sama anggota Koramil dan masyarakat, pada maghrib ini, jembatan sudah kami pasang kembali,” ujar salah satu anggota Koramil 05/Linge DPP Serka M. Tuah Hasibuan.
Ia menyebut perbaikan dilakukan secara gotong royong bersama masyarakat setempat.