news

Peringati Harlah, Pagar Nusa Gelar Napak Tilas dan Tekankan Kualitas Diri

Sabtu, 3 Januari 2026 | 16:10 WIB
Pengikut Pagar Nusa usai melaksanakan napak tilas. (SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id - Napak tilas dilakukan perguruan Pencak Silat Pagar Nusa (PN). Kegiatan dilakukan menyambut hari lahir ke-40.

Kegiatan diikuti ratusan pendekar PN. Acara digelar dengan ziarah makam pendiri PN dan NU, serta Sharing Session seputar sejarah PN.

Mereka mengawali dengan berkumpul di kantor MWCNU Diwek, Jombang. Lalu mereka berjalan kaki melakukan perjalanan napak tilas menuju makam Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng. Tujuannya, berziarah ke makam KH Syamsuri Baidawi, salah satu pendiri PN.

Dilanjut ziarah ke makam pendiri NU di Pondok Tebuireng. Setelah lsya, peserta diajak sharing session mengupas sejarah dan tanya jawab seputar PN.

Baca Juga: Selalu Eksis di Dunia Olahraga! Dari Mana Sebenarnya Asal-usul Beladiri Pencak Silat di Nusantara?

Hadir dalam acara tersebut, Gus Anwar Kholili, Ketua Mandataris PAC PN Diwek. Juga Gus Variz Muhammad Mirza dan Gus Galih, pembina PAC PN Diwek.

Ketua panitia Harlah PN Diwek, Sayyid, mengapresiasi kehadiran peserta, "Kehadiran panjenengan semualah yang menjadi titik kesuksesan acara hari ini," ujarnya, Jumat 2 Januari 2026, malam.

Ketua mandataris PAC PN Diwek, Gus Anwar Kholili, menjelaskan urgensi yang harus ada dalam acara tersebut. "Peringatan Harlah PN, yang penting adalah maknanya," tuturnya.

Dia berharap ke depan bisa diadakan Harlah PN yang lebih luar biasa lagi dan berisi.

Dalam sharing session, Gus Mirza menyampaikan pencak silat bukan hanya olah fisik, tapi juga olah jiwa.

Baca Juga: 7 Link Twibbon Harlah Pagar Nusa ke-39 Tahun 2025, Desain Terbaru untuk Postingan Media Sosial Hari Ini

"Pagar Nusa juga identik dengan pesantren, maka nilai-nilai pesantren harus ada dalam diri, seperti tidak angkuh," ujarnya. "Kita bukan tim boxing, tapi silat adalah bagaimana cara bertahan diri," imbuhnya.

Gus Mirza juga mengingatkan kepada peserta yang hadir agar tidak melupakan sejarah, "Kita harus ingat akar, yaitu jati diri. Boleh mengeksplorasi, tapi tidak boleh meninggalkan aspek jiwa dan rohani," ucapnya.

Dia sangat menyayangkan, jika sudah bisa pencak silat, kemudian disalahgunakan. "Silat Pagar Nusa ini thariqah. Harus punya lakon-lakon (amalan) yang dipegang dengan kuat di kehidupan," pintanya.

Halaman:

Tags

Terkini