news

Mengapa Pendidikan Harus Berpihak pada Kepentingan Publik? Pesan Ferry Irwandi yang Mengundang Perhatian Netizen

Sabtu, 3 Januari 2026 | 12:30 WIB
Ferry Irwandi berbicara mengenai peran dan tanggung jawab masyarakat terdidik dalam kehidupan sosial. (Instagram/irwandiferry)

Pandangan ini menempatkan ilmu pengetahuan sebagai instrumen transformasi sosial yang seharusnya berpihak pada penyelesaian masalah nyata di masyarakat.

Sorotan berikutnya tertuju pada kondisi masyarakat yang majemuk dan tidak setara.

Ferry Irwandi menilai bahwa dalam situasi tersebut, kelompok terdidik memikul tanggung jawab yang lebih besar.

“Tanggung jawab utama kelompok terdidik adalah memperluas akses pemahaman. Pendidikan seharusnya tidak menciptakan jarak, melainkan menjembatani perbedaan,” jelasnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan seharusnya bersifat inklusif dan menjadi sarana pemersatu, bukan alat eksklusivitas.

Ia juga mengkritisi kecenderungan sebagian kalangan terdidik yang justru menggunakan pengetahuan sebagai pembatas sosial.

Dalam caption tersebut disebutkan bahwa mereka yang memiliki akses lebih terhadap ilmu pengetahuan dituntut untuk berbagi, menerjemahkan, dan mempermudah, agar pengetahuan dapat menjadi milik bersama.

Dengan demikian, ilmu tidak berhenti sebagai simbol keunggulan, melainkan menjadi sarana pemberdayaan sosial.

Selain itu, Ferry Irwandi menyoroti peran strategis masyarakat terdidik dalam menjaga kualitas ruang publik.

“Dengan kemampuan berpikir kritis yang dimilikinya, mereka diharapkan mampu meluruskan disinformasi, menenangkan perbedaan, serta mendorong dialog yang rasional, beradab, dan berlandaskan fakta,” jelasnya.

Dalam konteks maraknya disinformasi, pernyataan ini menegaskan pentingnya peran intelektual dalam menjaga kejernihan diskursus publik.

Menutup pesannya, Ferry Irwandi menegaskan bahwa pendidikan harus berjalan seiring dengan integritas.

“Oleh karena itu, tanggung jawab masyarakat terdidik tidak hanya terletak pada kecakapan berpikir, tetapi juga pada keteladanan sikap, kejujuran intelektual, dan keberpihakan pada kepentingan publik,” tulisnya.

Penegasan ini menempatkan etika dan integritas sebagai fondasi utama dari pendidikan yang bermakna.

Unggahan tersebut menjadi refleksi penting bahwa kemajuan bangsa tidak semata diukur dari jumlah orang terdidik, melainkan dari sejauh mana kelompok terdidik bersedia memikul tanggung jawab sosialnya. Menurutnya, pendidikan menemukan maknanya yang sejati ketika digunakan untuk membangun masyarakat yang adil, beradab, dan bermartabat.***

Halaman:

Tags

Terkini