Situasi di lapangan juga sempat memanas usai sejumlah ibu-ibu di lokasi tak mampu menahan emosinya.
Mereka menilai, pengambilan kayu bernomor itu merupakan tindakan serakah di tengah penderitaan masyarakat yang menjadi korban bencana banjir dan tanah longsor.
Dari rekaman tersebut, terdengar makian yang mencerminkan kekecewaan warga yang merasa lingkungannya dijadikan ladang bisnis oleh oknum tertentu di tengah kondisi darurat bencana.
“Jangan rakus kalian. Nanti diadzab oleh Allah,” ujar salah seorang warga dengan nada penuh amarah.
Hingga kini, warga Aceh Tamiang menuntut adanya transparansi serta pembersihan material banjir secara menyeluruh.
Mereka berharap proses pemulihan tidak dicederai oleh kepentingan sepihak, agar luka akibat banjir bandang tidak semakin dalam.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!