"Setidaknya, tidak malu di hadapan Nabi (Muhammad SAW) saat pulang nanti. ketika nanti di akhirat ditanya 'Saudaramu di Aceh kondisinya begini, kamu kerjanya apa?'. Apa cuma cukup ke masjid dan ceramah? tidak bisa," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia menyebut bantuan yang diberikan bukan soal besar kecilnya angka, melainkan upaya agar kelak tidak merasa malu ketika menghadap Nabi Muhammad SAW. Ungkapan ini menyentuh hati banyak warga dan relawan di lokasi terdampak bencana.
Selain menyalurkan bantuan, UAH juga mengajak masyarakat setempat untuk segera bangkit dan mendorong pembentukan tim gotong royong guna membersihkan lingkungan.
Ayah 5 anak itu berupaya mendata ratusan rumah yang rusak dan menargetkan penanganan lima rumah setiap hari agar dalam waktu sekitar satu bulan kawasan terdampak bisa kembali bersih dan layak huni.
"Syarat yang pertama agar hal ini tercapai, harus ada kerja bersama, gotong royong dan saling tolong-menolong bantu saudaranya, karena pekerjaan ini tidak bisa dikerjakan sendiri," pungkasnya.
UAH menekankan nilai solidaritas yang menjadi kekuatan utama masyarakat Indonesia. "Kita hanya bisa membuat rumah hunian sementara sampai nanti ada bantuan dari pemerintah," tuturnya.
Aksi kemanusiaan UAH ini mendapat apresiasi luas dari publik. Di tengah polemik soal bantuan dan respons pemerintah, langkah nyata yang dilakukan UAH dinilai memberi contoh bahwa kepedulian, kehadiran langsung, dan kerja kolektif adalah kunci untuk membantu korban terdampak bencana pulih secara fisik maupun batin.
Lebih dari sekadar bantuan logistik, kehadiran UAH di Aceh menjadi pengingat bahwa empati dan tanggung jawab kemanusiaan adalah nilai penting yang harus dijaga, terutama saat saudara sebangsa tengah diuji oleh bencana alam.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini