SketsaNusantara.id - Bencana banjir dan longsor di Aceh Tamiang belum menunjukkan tanda-tanda membaik meski telah memasuki pekan ketiga.
Kerusakan parah, akses yang terputus, serta deretan korban yang belum ditemukan masih menghantui sebagian besar wilayah di provinsi tersebut.
Hingga saat ini, 10 dari 17 kabupaten terdampak masih mengalami kerusakan masif.
Daerah-daerah tersebut meliputi Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Nagan Raya.
Andjani Azzahra, pemuda asal Aceh yang juga menjadi korban bencana, mengatakan banyak rumah warga kini tak lagi layak huni.
Pascabencana, sejumlah rumah terendam lumpur hingga setinggi tiga meter.
"Kalau rumah batu masih tertimbun lumpur. Tapi untuk rumah kayu, seperti di Aceh Tamiang, itu habis tak tersisa," ujar Andjani, yang akrab disapa Andja, saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Andja mengungkapkan, sejumlah daerah terdampak seperti Aceh Tamiang merupakan kawasan dengan aktivitas penebangan hutan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit secara masif.
Sementara di Aceh Tengah, gunung-gunung telah berubah menjadi area perkebunan.
"Di Aceh Tengah memang tidak ada sawit, tapi gunung-gunung mereka habis dijadikan kebun kopi, cabai, sayuran, dan tanaman lainnya," katanya.
Kondisi berbeda terlihat di wilayah lain seperti Pulo Aceh dan Aceh Selatan.