“Dan itu yang menyebabkan orang sekarang menganggap bahwa lebih baik bayar pajak lewat bencana dari pada ditagih oleh pemerintah,” imbuhnya.
Sebaliknya, pemerintah seolah abai akan rasa kemanusiaan dan ini sangat bertolak belakang dengan Pancasila yang selama ini digaungkan.
“Itu mengolah batin kita untuk menilai apakah Pancasila yang sering diucapkan dalam berbagai pidato itu dimengerti pemerintah atau tidak?” tanyanya.
Sebagai negara yang sangat besar dan kaya akan sumber daya alam dan budayanya, nyatanya tidak membuat Indonesia lepas dari berbagai paradoks.
“Kita mau pastikan ini karena inilah ujian pertama betapa satu bangsa yang kaya raya tetapi masuk dalam berbagai macam paradoks,” tegasnya.
Pembabatan hutan dilakukan begitu masif dan tak terkendali namun tidak dibarengi dengan usaha reboisasi yang efektif.
“Hutan yang dibabat, oligarki, hendak dipulihkan dengan cara dikembalikan pada pebisnis melalui segala macam skema,” sambungnya.
Penebangan hutan seharusnya diimbangi dengan konservasi atau upaya perlindungan secara bijak demi kehidupan yang keberlanjutan.
“Padahal sebetulnya kita mengerti bahwa setiap upaya konservasi artinya dikembalikan kepada alam,” ujarnya.
Kegagalan pemerintah semakin terpampang nyata dengan tidak adanya upaya yang serius dalam mengembalikan ekosistem hutan.
“Kemarahan publik itu datang bersamaan dengan kegagalan pemerintah untuk memberikan kepastian bahwa reboisasi itu harusnya betul-betul dalam pengertian konservasi,” tutup Rocky.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!