"Eh ya pak, bapak ini juga punya keterkaitan dengan kasus2 kehutanan. Pokoknya banyak pak. Tapi ya, top lah bapak. Bangga saya, teruslah malu tak gentar pak," pungkasnya.
Unggahan Zainal Arifin Mochtar mencuri perhatian dan mengundang beragam komentar dari warganet, termasuk dari para pesohor tanah air.
Beberapa yang menarik perhatian adalah respon Habib Jafar, hingga Mamat Alkatiri dan Inaya Wahid yang menyebut Zulhas 'jago akting' bak sedang syuting film/sinetron.
"Ini judul filmnya apa ya?" tulis Habib Jafar melalui akun Instagram @husein_hadar yang disematkan di kolom komentar. "Layak dapat piala citra (FFI) 2026 nanti, untuk kategori pemeran pemikul terbaik," timpal akun @mamat_alkatiri, milik komika Mamat Alkatiri.
"Akting sekelas ini harus ditandingkan dengan aktor sekelas Harrison Ford," sahut akun Instagram @inayawahid milik putri bungsu Gus Dur.
"Wis mulai banyak (pejabat) yang turun ke lapangan, tapi pencitraan full, futu-futu manja sama (korban banjir) yang kelaparan sambil nangis, dah lah cuma bisa elus dada," imbuh @inul.d, akun Instagram milik Inul Daratista.
"Malu tak gentar, membela yang terjual," komentar akun @usmanham_id, milik aktivis HAM, Usman Hamid. "Pencitraan paling menjijikkan. Zulkifli Hasan jadi menteri dengan izin 'Pembalakan' hutan terbesar, sekarang bikin drama memuakkan pura-pura jadi pahlawan," komentar akun @komunitaswargawaras.
Bukan tanpa alasan, sorotan tajam masih terus tertuju pada Zulkifli Hasan yang kembali mengingatkan pada kontroversinya di masa lalu.
Warganet kembali mengungkit rekam jejaknya saat menjabat sebagai Menteri Kehutanan di era pemerintahan SBY, yang dinilai berkontribusi pada kerusakan lingkungan di Sumatera karena telah mengizinkan pembabatan hutan hingga 2,4 juta hektare.
Kebijakan tersebut bahkan dikaitkan dengan bencana banjir besar yang menewaskan lebih dari 600 orang di tiga provinsi di Sumatera.
Laporan berbagai organisasi lingkungan menyebut bahwa Zulhas menerbitkan izin pelepasan hutan seluas 1,64 juta hektare untuk dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit yang memicu protes karena dinilai merusak ekosistem dan mengancam habitat satwa liar.
Publik juga menolak lupa kasus alih fungsi hutan di Riau pada 2014 yang kembali menyeret nama Zulhas. Dampak dari kerusakan lingkungan itu kini kian meluas, bukan hanya ancaman terhadap ekosistem dan satwa liar, tetapi juga meningkatkan risiko bencana yang membawa kesengsaraan bagi masyarakat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini