SketsaNusantara.id – Dunia kesehatan di Papua berduka sekaligus terkejut menyusul kabar meninggalnya seorang ibu dan bayi yang dikandungnya.
Ia adalah Irene Sokoy, ia harus meregang nyawa bersama bayi yang dikandungnya, setelah diduga ditolak secara berulang oleh 4 rumah sakit di Kabupaten dan Kota Jayapura.
Sehingga tragedi memilukan ini kini menjadi sorotan sebagai bentuk buruknya akses dan pelayanan kesehatan darurat bagi ibu hamil di kawasan timur Indonesia.
Baca Juga: KPK Tegaskan Kematian Lukas Enembe Tak Menghapus Jejak Korupsi Rp1 Triliun di Papua
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube KOMPASTV, inilah kronologi penolakan beruntun hingga sebabkan 2 nyawa melayang sekaligus.
Irene Sokoy merupakan warga Kampung Hobong, Distrik Sentani, mulai merasakan kontraksi pada hari Minggu, 16 November 2025.
Suami mendiang yakni Neil Kabey, berjuang keras mencari pertolongan medis untuk sang istri yang sudah mengalami pembukaan enam dan ketuban pecah.
Irene awalnya dibawa ke RSUD Yowari, disana, proses persalinan tidak dapat dilakukan karena kondisi bayi yang terlalu besar hingga berat 4 kg, sehingga tim medis RSUD Yowari kemudian merekomendasikan rujukan segera.
Namun sayangnya, surat rujukan baru dikeluarkan pada dini hari, Senin 17 November 2025 sekitar pukul 01.22 WIT dengan keluar 2 surat rujukan yakni ke RS Dian Harapan & RS Abe.
Namun ternyata 2 rumah sakit rujukan dilaporkan menolak pasien dimana alasan penolakan beragam, termasuk kamar perawatan yang penuh hingga adanya renovasi fasilitas.
Keluarga kemudian membawa Irene ke RS Bhayangkara, namun lagi-lagi rumah sakit ini diduga menolak memberikan penanganan darurat karena keluarga tidak mampu menyediakan uang muka yang diminta sebesar Rp 4 juta.
Dalam kondisi kritis, Irene dirujuk ke RSUD Dok II Jayapura, namun sayangnya, Irene Sokoy dan bayi dalam kandungannya meninggal dunia dalam perjalanan, sebelum sempat mendapatkan penanganan medis penyelamat jiwa.