SketsaNusantara.id - Kabupaten Jember dikenal sebagai daerah dengan julukan Seribu Gumuk. Namun kenyataannya, semakin banyak gumuk yang hilang.
Hilangnya gumuk-gumuk di Jember ini mulai menjadi perbincangan warga, salah satunya seorang geolog asal Jember, Firman Sauqi.
Dalam sebuah acara diskusi yang diselenggarakan oleh Sudut Kalisat pada Rabu, 19 November 2025 kemarin, Firman Sauqi menyampaikan dua pandangannya terkait fenomena ini, sebagai geolog serta warga Jember.
Melihat dari kacamata geolog, kata Firman, munculnya gumuk di Jember menjadi salah satu fenomena langka yang hanya ada di beberapa daerah saja.
"Gumuk adalah sampel geologi yang tidak ditemukan di tempat lain. Kalau sampel ini hilang, ada ilmu pengetahuan yang ikut hilang," katanya.
Menurutnya, gumuk seharusnya bisa menjadi sarana belajar bagi generasi geolog berikutnya.
Sementara, dalam perspektif masyarakat Jember, Firman menyadari bahwa gumuk bukan hanya obyek fisik, tetapi bagian dari ruang hidup warga Jember yang mempengaruhi penyediaan air, kenyamanan, hingga kualitas hidup.
Firman dan beberapa peneliti yang lain telah melakukan penelitian menggunakan citra satelit.
Dari pemantauan melalui citra satelit mulai tahun 1990-an hingga 2025, ditemukan bahwa gumuk di Jember telah hilang sebesar 10–13%.
Doktor asal Jember ini mengatakan bahwa jumlah gumuk yang tersisa kini memang cukup bervariasi, data lama menyebut gumuk tersisa sekitar 2000, sementara data baru memperkirakan sekitar 700-800 gumuk yang tersisa.
Berdasarkan data yang dimilikinya, hampir seluruh kecamatan di Jember memiliki gumuk, kecuali Panti, Tanggul, dan Sumberbaru. Konsentrasi gumuk terbanyak berada di Kalisat dan Pakusari.