SketsaNusantara.id - Pemerintah Kabupaten Jember mengambil langkah strategis dengan menempatkan isu pernikahan dini dan stunting sebagai prioritas utama.
Inisiatif ini bertujuan untuk membentuk Generasi Emas Jember yang unggul, sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.
Upaya pencegahan tersebut disosialisasikan langsung kepada ratusan pelajar, khususnya pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), yang diharapkan menjadi ujung tombak perubahan.
Dalam acara bertajuk Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini dan Stunting yang digelar di Aula Dinas Pendidikan pada Selasa, 11 November 2025.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, menyampaikan pesan penting untuk ikut serta membangun potensi Jember.
Selain itu, ia menekankan bahwa meski generasi muda Jember memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pemimpin dan pendorong kemajuan daerah, potensi tersebut bisa terhambat oleh bahaya pernikahan dini dan stunting.
"Anak-anak ini akan menjadi motor penggerak dan pemimpin masa depan. Potensi itu hanya bisa terwujud jika mereka tumbuh sehat, cerdas, dan mampu berkarya," ujarnya.
Baca Juga: Dana Transfer Pusat ke Daerah Berkurang, Pemkab Jember: APBD 2026 Difokuskan ke Program Prioritas
Menurut Edy Budi Susilo, pernikahan dini bukanlah semata soal usia, melainkan mencakup ketidaksiapan dari segi mental, fisik, dan sosial.
Remaja yang terburu-buru menikah cenderung belum siap memikul tanggung jawab orang tua, yang pada akhirnya dapat membahayakan kesehatan ibu dan anak.
Edy menjelaskan bahwa minimnya kesiapan ini secara langsung meningkatkan risiko kehamilan bermasalah, yang kemudian berdampak pada peluang anak yang dilahirkan mengalami stunting.
Hal ini karena kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis selama periode 1.000 hari pertama kehidupan. Oleh karena itu, memerangi pernikahan dini juga berarti memutus mata rantai kemiskinan antar generasi.
Meskipun Jember mencatat adanya tren penurunan kasus pernikahan dini, Edy Budi Susilo mengungkapkan keprihatinan atas kasus-kasus yang masih terjadi di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Jember pun secara tegas menunjuk pengurus OSIS dari 175 SMA/SMK/MA yang hadir sebagai garda terdepan dalam kampanye pencegahan ini.'