Penderitaan yang ditimbulkan oleh kebijakan Orde Baru tidak berhenti di balik jeruji besi.
Menurutnya, setelah 11 tahun diizinkan pulang, Utati dan para penyintas lainnya dihadapkan pada stigma "tidak bersih lingkungan" yang mengikat dan membatasi gerak mereka seumur hidup.
Mereka dilarang bekerja sebagai pegawai negeri, guru, dalang, atau profesi lain yang dianggap strategis oleh rezim.
Gerak-gerik mereka diawasi, bahkan, untuk bepergian ke luar kota pun mereka harus melapor kepada aparat keamanan setempat dan mencari penjamin.
Dampak stigma ini juga dialami oleh anak cucu para penyintas, yang kerap kesulitan dalam pendidikan maupun karier karena tracing latar belakang keluarga.
Utati merasa, setelah 60 tahun berlalu, hak asasi mereka belum sepenuhnya pulih dan hingga saat ini kekhawatiran masih menyelimuti hidupnya dan rekan-rekannya, bahkan di era Reformasi.
"Kalau presiden yang melakukan begitu banyak tekanan pada kami terus mau diangkat sebagai pahlawan nasional, kami tidak rela," jelas Utati.
Untuk itu sekali lagi Utati mengaku tak rela jika Soeharto yang dianggapnya tokoh yang paling bertanggungjawab atas pelanggaran HAM berat diangkat sebagai pahlawan.
Jika Soeharto tetap diangkat sebagai pahlawan maka itu sama artinya penghinaan terhadap penderitaan yang telah mereka alami.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!