“Di titik itu, Pak Muljono wali kelas saya di kelas 2 dan Almarhum Mom Anita, wali kelas saya di kelas 3, tidak menyerahm” tulisnya lagi.
Ia menambahkan, pada saat itu, Ferry yang mengaku sebagai ‘anak bermasalah’ malah ditunjuk sebagai juru bicara cerdas cermat hingga mengikuti lomba depat.
“Waktu itu gue mikir, why they don’t give up to me,” tanya pendiri Malaka Project.
Ferry yang kala itu sudah kehilangan semangat sekolah akhirnya menemukan jawabannya beberapa tahun kemudian.
Setelah lulus kuliah, Ferry sempat bertemu 2 mantan wali kelasnya itu dan menemukan jawaban dari masa lalunya.
“Mom (Anita) cuma menjawab supaya jadi contoh adik-adik kamu nanti bahwa jangan menyerah dengan sekolah, semua bisa terjadi selama kamu memang berusaha untuk berubah,” tulis Ferry menirukan ucapan mendiang gurunya itu.
Dari pengalaman dan jawaban tersebut, Ferry pun menyadari, menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah.
“Apa yang terjadi dengan seorang murid di masa depan sangat bisa ditentukan apa yang dilakukan oleh gurunya di masa sekarang,” tulisnya lagi.
Ia pun menilai pekerjaan tersebut sangatlah kompleks hingga mengapresiasi peran guru.
“Pekerjaan ini lebih kompleks dari apa yang saya pikirkan. Jayalah seluruh guru di Indonesia,” tutup Ferry dalam postingannya tersebut.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!