SketsaNusantara.id - Publik belakangan ini ramai menyoroti kisah viral CEO Japan Airlines (JAL) yang berupaya menyelamatkan perusahaan di tengah krisis keuangan.
Japan Airlines (JAL) merupakan maskapai penerbangan nasional di Jepang yang pernah mengalami kondisi buruk saat dilanda krisis keuangan.
Melihat situasi ini, CEO Haruka Nishimatsu melakukan gebrakan besar bahkan sampai rela tak digaji hingga menolak fasilitas mewah agar bisa berhemat untuk mencegah perusahaan tidak bangkrut.
"Pada tahun 2009, Japan Airlines (JAL) dilanda krisis keuangan akibat manajemen buruk. Utang JAL mencapai lebih dari 2,3 triliun yen (sekitar Rp 250 triliun saat itu)," ungkap akun Instagram @fyifact dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan pada hari Rabu, 15 Oktober 2025.
"Ekspansi berlebihan dan pembelian pesawat baru ternyata tidak seimbang dengan penerimaan pendapatan. Di tengah situasi genting itu, sang CEO, Haruka Nishimatsu memotong gajinya sendiri hingga hampir nol yen sebagai simbol tanggung jawab moral di tengah krisis," imbuhnya.
Video yang beredar di media sosial, menunjukkan CEO Japan Airlines berusaha hidup hemat. Ia menolak fasilitas mewah, berangkat kerja naik bus hingga makan di kantin dengan pegawainya setiap hari.
Baca Juga: Neo Japan Ungkap Fakta Unik Mengenai Kehidupan DPR Jepang: Berangkat Kerja Naik Sepeda!
Tak hanya itu, ia juga mendengarkan masukan dari para karyawannya dan bertukar pendapat untuk mencari solusi agar perusahaan bisa keluar dari krisis keuangan yang berkepanjangan.
Pengorbanan sang CEO membuahkan hasil. Beberapa tahun kemudian JAL kembali bangkit dan keluar dari krisis bahkan perusahaan berhasil mencetak laba besar.
Japan Airlines kembali melantai di bursa saham Tokyo (IPO) dan bahkan menjadi salah satu IPO terbesar di dunia pada tahun 2012.
Baca Juga: Memilih Kuliah di Jepang, Ini Alasan Joaquine Jebolan Idol Junior Tempuh Pendidikan di Negeri Sakura
Kisah CEO Japan Airlines ini mencuri perhatian publik hingga jadi perbincangan hangat di media sosial.
Warganet memuji sikap rendah hati CEO perusahaan besar di Jepang dan tak sedikit yang membandingkannya dengan para pejabat di tanah air yang dinilai berbanding terbalik dengan yang ada di Indonesia.