news

Merawat Warisan Tulis Nusantara Aksara Kawi Lewat Mangadhyayaksara di Jember

Minggu, 21 September 2025 | 16:00 WIB
Mangadhyayaksara 2025 (Sketsa Nusantara/Qorry 'Aina)

Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas akademisi atau institusi pemerintah, tetapi kerja kolektif lintas komunitas dan generasi.

Menguatkan Identitas di Tengah Arus Global

Di era digital, kegiatan semacam ini menjadi penting untuk memperkuat kesadaran budaya dan sejarah.

Gazza menegaskan bahwa Mangadhyayaksara hadir bukan sekadar mengenalkan Aksara Kawi, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa cinta pada sejarah dan literasi lokal.

Baca Juga: Kalisat Tempo Dulu 10: Cara Sudut Kalisat Merawat Harapan dan Ingatan akan Kampung Halaman melalui Lanskap Perkebunan Jember

"Banyak dari kita yang akrab dengan nama cagar budaya di sekitar Jember, tapi tidak tahu bagaimana membaca prasasti beraksara Kawi. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengubah itu,"

"Kami ingin masyarakat, khususnya generasi muda, bisa merasakan langsung pengalaman membaca dan menulis aksara Kawi,” tegasnya.

Rangkaian Acara: Belajar Teori hingga Menulis di Lontar

Hari pertama program diisi dengan pengantar aksara Kawi oleh Gazza, sekaligus peluncuran buku terbarunya berjudul Aksara Kawi Kwadrat: Sejarah, Seni, dan Popularitas, yang diterbitkan oleh Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya (LSSK Murtasiya).

Buku ini menegaskan bahwa aksara kuno bukanlah peninggalan mati, melainkan bisa dibaca, dipelajari, bahkan dihidupkan kembali dalam konteks masa kini.

Baca Juga: Bersenang-senang di Panggung Kampung ala Kalisat Tempo Dulu Bersama Orkes Silampukau dan Kisah dari Negeri Arkipelagia

Sementara itu, pada hari kedua 21 September 2025, digelar seminar aksara Kawi yang menghadirkan pembicara utama Drs. Ismail Lutfi, M.A., pakar epigrafi dari Universitas Negeri Malang.

Seminar dipandu oleh M. Fadlal Khayri, mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam dari UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Tak hanya teori, peserta juga berkesempatan mengikuti praktik membaca dan menulis aksara Kawi langsung di atas media lontar.

"Mengenali, memahami, dan mencintai warisan budaya di sekitar kita adalah langkah awal untuk merawatnya. Dari situ, lahir kesadaran bahwa masa lalu bukan cerita belaka, tetapi bagian dari diri kita," tandasnya.***

Halaman:

Tags

Terkini