Lanskap perkebunan menjadi pintu masuk yang dipilih Sudut Kalisat untuk dapat mendengarkan bagaimana tanah bisa berbicara tentang masa lalu.
"Jika dulu Kalisat menjadi tempat distribusi hasil bumi, kini Sudut Kalisat ingin menjadikannya sebagai titik distribusi pengetahuan," jelasnya.
Pameran di Lorong Warga
Puncak kegiatan residensi ini diwujudkan dalam pameran seni yang tersebar di delapan titik di Kampung Lortskal.
Pengunjung bisa menikmati karya seni sembari menyusuri lorong-lorong rumah warga.
Karya-karya yang ditampilkan pun sangat beragam, mulai dari pertunjukan seni, rupa, aroma, film, video, lukisan, zine, fotografi, kaligrafi, herbarium, hingga teknik cetak alternatif seperti cianotipe.
Kolaborasi Lintas Daerah dan Negara
Seniman yang terlibat dalam KTD 10 berasal dari berbagai kota di Indonesia, bahkan mancanegara, termasuk Jepang, Belanda, Taiwan, dan Hongkong.
Di antaranya: Achmad Syafiki dan Robit Ulum (Komunitas Lembana Artgroecosystem, Sumenep), Fanggi Gusti P dan Imron Annurahman (Sudut Kalisat, Jember), Sarka Space (Bondowoso), Samsul Aripin (Jember), Khoirul Atfifudin (Komunitas Kretek, Temanggung), Aldizar Ahmad G dan Alfi Syahrial (Jatiwangi Art Factory, Majalengka), Reza Kutjh (Yogyakarta), Adam Azizi Yudhistyana (Banyuwangi), Mega Silvia (Lamongan), Yusrizal Novwaril Huda dan Rizal Firdaus (NHP Project, Jember), Achmad Supandi (Jember), Kartika Ainun Fitri (Bloom Mind, Jember), Ali Gardy Rukmana (Nusantara Rythm, Situbondo), Josaphat Wulan R. E (Jember), Sander Francken (Belanda), Sari Shibata (Jepang), serta Lin Chun Yao dan Lo Yuen Ming dari (The Vacuum Landscape, Taiwan dan Hongkong).
Mereka menciptakan karya baik secara mandiri maupun kolaboratif.
Diskusi dan Pemutaran Film
Selain pameran, KTD 10 juga menggelar serangkaian diskusi yang dikemas dalam program bertajuk 'Seniman Wicara' dan pemutaran film yang mengulas hasil riset dan proses kreatif selama residensi.