news

Mengapa Angka Kemiskinan BPS 8,47 Persen, Sementara Bank Dunia 68,2 Persen? Pengamat Ekonomi Jelaskan Perbedaan Ukuran dan Dampaknya

Sabtu, 13 September 2025 | 22:00 WIB
Pengamat ekonomi, Ferry Latuhihin menyoroti perbedaan angka kemiskinan RI antara BPS dengan Bank Dunia. (YouTube.com/Tonny Hermawan Adikarjo)

Teori ini menjelaskan bahwa nilai tukar suatu mata uang akan menyesuaikan agar daya beli setara di berbagai negara. Dengan ukuran ini, angka kemiskinan dibuat seragam agar bisa dibandingkan lintas negara.

Ferry menegaskan bahwa inilah alasan data versi Bank Dunia terlihat jauh lebih tinggi. Ia menilai penting bagi masyarakat memahami perbedaan metode, sehingga tidak salah kaprah ketika membaca data BPS maupun Bank Dunia.

“Kalau kita tetap ngotot pakai data BPS, maka seolah-olah kita selalu jadi pemenang. Padahal kriteria BPS berbeda dengan Bank Dunia,” terang Ferry.

Selain soal metode, Ferry juga menyoroti kondisi geografis dan sosial Indonesia yang beragam. Menurutnya, masyarakat di pedesaan mungkin masih bisa bertahan hidup dengan Rp20.000 per hari, sementara di perkotaan angka itu jelas tidak cukup. Ketimpangan ini membuat hasil pengukuran tampak timpang.

Ia mencontohkan keberhasilan China yang berhasil mendorong urbanisasi dan industrialisasi secara masif.

Dengan langkah itu, pengukuran kemiskinan di negara tersebut lebih mudah disesuaikan dengan standar internasional.

Menurut Ferry, tantangan Indonesia adalah meningkatkan urbanisasi dan industrialisasi agar data kemiskinan lebih akurat secara global.

Dalam penutup, Ferry kembali menekankan bahwa pemahaman publik terhadap metode pengukuran sangat penting.

Data BPS dan Bank Dunia sama-sama valid, tetapi berbicara dalam kerangka yang berbeda. Perbedaan inilah yang membuat angka kemiskinan Indonesia terlihat jauh antara ukuran nasional dan standar internasional.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Tags

Terkini