Kisah tersebut, menurut Tom, adalah gambaran bagaimana perubahan berjalan dalam kehidupan. Dari hal kecil, jika terus dilakukan, hasil akhirnya bisa berlipat ganda dan mengubah banyak hal.
"Itulah perubahan yang berjalan, mulai dari 1 menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8, dan seterusnya," jelasnya dalam siniar tersebut.
Ia menambahkan bahwa tuntutan perubahan yang diawali dari aspirasi sederhana bisa berkembang menjadi gelombang besar.
Bahkan, gerakan itu berpotensi tak terbendung jika terus diperjuangkan secara konsisten. Analogi beras di papan catur menggambarkan skenario di mana sesuatu yang tampak kecil, ketika diperbanyak secara berkelanjutan, akan melahirkan dampak luar biasa.
Menurut Tom, posisi Indonesia saat ini berada dalam fase penting untuk melihat aspirasi publik dengan serius.
Tuntutan 17 plus 8 yang lahir dari aksi demonstrasi bisa menjadi dasar untuk membangun gerakan lebih besar ke depan. Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah, perubahan besar kerap berawal dari langkah kecil yang dikelola dengan tekun.
Pernyataan Tom Lembong juga menjadi catatan bahwa momentum perubahan perlu diarahkan ke jalur yang positif. Konsistensi perbaikan, kata dia, menjadi kunci dalam mendorong sistem pemerintahan yang lebih baik.
Aspirasi masyarakat tidak hanya perlu didengar, tetapi juga diolah agar melahirkan kebijakan yang memberi manfaat nyata.
Dengan begitu, gagasan tentang 17 plus 8 tak berhenti sebagai slogan semata.
Melainkan bisa menjadi langkah awal menuju sistem pemerintahan Indonesia yang lebih kokoh. Dari kisah sederhana papan catur, publik mendapat gambaran bahwa perubahan tidak harus besar di awal, tetapi harus terus bergerak tanpa henti.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!