Kebenaran yang seharusnya terungkap melalui media, justru harus dikotori dengan berita bohong dan debat kusir.
“Sementara deep fake mengaburkan apa yang nyata dan perlahan-lahan menghancurkan kepercayaan kita,” sambungnya.
Ibu dari Izzat Assegaf dan Namiyah ini mengapresiasi anak muda Indonesia yang bersedia turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya dalam demonstrasi beberapa waktu lalu.
“Di saat yang sama, saya juga melihat kebalikannya. Di Indonesia, anak muda memverifikasi langsung ucapan politisi dan turun ke jalan menuntut transparansi dan akuntabilitas,” ucapnya.
Aksi cepat tanggap dari masyarakat Indonesia dalam menyalurkan bantuan juga patut diacungi jempol karena mengalahkan laju pemerintah.
“Masyarakat memobilisasi bantuan lebih cepat dari pada pemerintah, aktivis iklim terhubung lintas batas dengan kecepatan yang tidak bisa ditandingi negara mana pun,” pujinya.
Tujuan dari aksi demonstrasi beberapa waktu yang lalu adalah untuk memulihkan kondisi Indonesia dan bukan untuk memecah belah bangsa.
“Di Indonesia dan seluruh dunia warga sedang merebut kembali kekuasaan mereka menggunakan suara mereka bukan untuk memecah belah tapi untuk bersatu,” tuturnya.
Bagi Najwa, sudah seharusnya media independen terlepas dari cengkraman politik untuk mencegah adanya perpecahan antar masyarakat.
“Kita harus melindungi media independen dari cengkraman politik dan komersial, serta memelihara literasi media sehingga warga dapat berdiri teguh melawan disinformasi,” ucapnya.
Najwa juga menyinggung tentang konflik yang masih bergulir tiada henti di Gaza.