“Ngapain di Denmark? Kerja dong yang halal yang tidak ngembat duit pajak masyarakat kesusahan ekonomi dan masih mau dicekek sama pajak lebih banyak lagi. Sudah edan kalian pemerintah mati empati,” kata Salsa.
Ia menekankan bahwa uang dan kekayaan bukanlah segalanya, apalagi jika diiringi sikap yang dianggap kurang empati terhadap penderitaan rakyat.
Menurut Salsa, publik butuh pemimpin yang mampu berargumen dengan data, logika, serta hati nurani, bukan sekadar pamer kekayaan.
Dalam kesempatan yang sama, Salsa juga mengklarifikasi pekerjaannya di Denmark. Ahmad Sahroni sempat mengunggah foto Salsa di feed Instagramnya yang kemudian diduga telah dihapus dan menyinggung seolah Salsa sedang mengikuti lomba debat. Hal itu langsung diluruskan olehnya.
“Aku nggak sedang lomba debat di Denmark. Prestasi debat aku itu udah 10 tahun yang lalu. Aku sedang kerja. Saat ini aku adalah strategi manager di perusahaan paling sustainable di dunia, namanya Vestas,” jelas Salsa.
Ia menambahkan bahwa Vestas adalah perusahaan energi terbarukan terbesar dan paling menguntungkan di dunia, dan dirinya berperan sebagai ahli strategi dalam merumuskan kebijakan bisnis.
“Apa yang aku lakukan di sana? Aku membantu perusahaan agar bisa memprioritaskan kebijakan-kebijakan terbaik untuk masa depan energi,” ungkapnya.
Sebelum meniti karier di Denmark, Salsa dikenal sebagai salah satu mahasiswa berprestasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menempuh studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM, jurusan Hubungan Internasional, pada tahun 2010–2014.
Selama kuliah, Salsa aktif dalam Debate Team serta Dewan Mahasiswa Hubungan Internasional. Ia menuntaskan studinya dengan predikat Best Graduate, meraih IPK 3,81 dari skala 4,00.
Rekam jejak prestasi Salsa Erwina juga terbilang gemilang. Ia pernah dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2014 sekaligus masuk dalam Top 10 Mahasiswa Berprestasi Nasional 2014 yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemdikbudristek.
Pada level internasional, Salsa meraih gelar Champion sekaligus 3rd Best Speaker dalam kategori English as a Foreign Language pada ajang United Asian Debating Championship di Nanyang Technological University, Singapura, Mei 2014.
Selain itu, ia juga dipercaya menjadi Deputy Chief of Adjudicator dalam kompetisi debat berbahasa Inggris yang digelar International Committee of the Red Cross (ICRC) pada Januari 2013.
Tak hanya berhenti di situ, Salsa juga menyampaikan harapannya agar suatu saat teknologi yang dikembangkan oleh perusahaannya bisa dibawa ke Indonesia.
Menurutnya, pemanfaatan energi terbarukan akan membantu bangsa keluar dari ketergantungan pada minyak dan sekaligus memberikan akses listrik murah bahkan gratis bagi masyarakat.