Komentar lain datang dari akun Rijal, yang menulis, “Ngeludahkin DPR secara online.”
Tak sedikit pula yang terang-terangan mendukung seruan pembubaran DPR.
“Ramein hastag #BUBARINDPR.” tulis @alv.744.
Sementara itu, akun lain @allartis menyindir tajam dengan komentar, “Bubarkan DPR, nggak guna banget.”
Rangkaian komentar yang beredar menunjukkan bahwa masyarakat masih diliputi kekecewaan terhadap kinerja DPR. Bagi sebagian besar warganet, pernyataan Sahroni justru semakin mempertebal anggapan bahwa DPR jauh dari aspirasi rakyat.
Beberapa bahkan menilai pernyataan Sahroni terkesan meremehkan suara masyarakat. Sementara itu, gaung “Bubarkan DPR” di media sosial menggambarkan luapan frustrasi publik terhadap performa lembaga legislatif yang dinilai belum memuaskan.
Alih-alih meredam kemarahan publik, kata-kata keras Sahroni seperti “orang tolol” justru dianggap memperkeruh situasi. Sebagian warganet menilai, seorang pejabat publik seharusnya memberikan pernyataan yang menenangkan, alih-alih respons yang terkesan emosional.
Namun demikian, Sahroni menegaskan bahwa DPR tetap akan berdiri meski dihujani kritik keras dari masyarakat.
“Masih berdiri DPR-nya, sampai kapanpun tidak akan berubah. Sama saja,” ujarnya dalam akhir pernyataannya.
Ucapan tersebut kembali menuai gelombang reaksi tajam dari publik. Sebagian menilai ucapan tersebut justru memperlihatkan kesan arogan dan menutup ruang evaluasi.
Padahal, kritik publik sejatinya bisa menjadi bahan introspeksi bagi wakil rakyat untuk memperbaiki kinerja dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!