news

Data BI Ungkap Uang Beredar Juli 2025 Naik Jadi Rp9.569,7 Triliun, Likuiditas Kian Menguat

Minggu, 24 Agustus 2025 | 15:30 WIB
Ilustrasi uang. (X @mbakkrystal)

SketsaNusantara.id - Bank Indonesia (BI) merilis data terbaru mengenai kondisi uang beredar di Indonesia.

Pada Juli 2025, jumlah uang beredar dalam arti luas atau M2 menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

BI mencatat, M2 tumbuh 6,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dengan posisi mencapai Rp9.569,7 triliun. Angka ini naik tipis dibandingkan Juni 2025 yang mencatat pertumbuhan 6,4 persen dengan posisi Rp9.595,3 triliun.

Baca Juga: Ikuti Jalan Sehat, Warga di Jombang Kenakan Kostum Berbagai Adat dan Cosplay Uang Kertas

Kondisi ini mencerminkan likuiditas perekonomian yang tetap terjaga di tengah dinamika sektor keuangan.

Uang beredar M2 merupakan indikator penting untuk memantau likuiditas dalam perekonomian.

Komponen M2 terdiri dari uang beredar sempit (M1) dan uang kuasi. Pada Juli 2025, kedua komponen ini mencatatkan kenaikan.

Baca Juga: Indra Bruggman Kaget Temukan Uang Puluhan Juta dalam Tas Peninggalan Mendiang Ibunya, Auto Kena Wanti-Wanti Netizen: Awas Disita Negara!

M1, yang meliputi uang kartal berbentuk kertas maupun logam serta simpanan giro dalam rupiah, mencatat pertumbuhan lebih kuat dibanding bulan sebelumnya.

Pertumbuhannya meningkat dari 8,0 persen yoy pada Juni menjadi 8,7 persen yoy pada Juli 2025, dengan posisi mencapai Rp5.373,6 triliun.

Sementara itu, uang kuasi yang mencakup tabungan, deposito berjangka, serta simpanan dalam valuta asing juga mengalami peningkatan.

Meski relatif lebih moderat, pertumbuhan uang kuasi tercatat sebesar 4,8 persen yoy pada Juli 2025, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mencapai 4,7 persen yoy. Nilainya mencapai Rp4.139,9 triliun.

Bank Indonesia menilai peningkatan jumlah uang beredar pada periode tersebut ditopang oleh dua faktor utama.

Pertama, aktiva luar negeri bersih mengalami pertumbuhan signifikan, naik dari 3,9 persen pada Juni menjadi 7,3 persen pada Juli 2025. Kedua, perbaikan pada tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat, yang meskipun masih mencatat kontraksi, menunjukkan perbaikan dari -8,2 persen pada Juni menjadi -6,2 persen pada Juli 2025.

Halaman:

Tags

Terkini