“Sekarang yang di ritel modern juga sudah mulai banyak beras SPHP juga mulai ini, walaupun belum 100 persen,” terang Budi.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya perbedaan harga yang cukup jauh di berbagai wilayah.
Pada zona 1, meliputi Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB, dan Sulawesi, rata-rata harga beras nasional berada di angka Rp14.731 per kilogram.
Untuk zona 2, yang mencakup Sumatera selain Lampung dan Sumsel, NTT, Kalimantan, Maluku, serta Papua, harga rata-rata lebih tinggi yaitu Rp15.744 per kilogram.
Sedangkan zona 3, yang mencakup beberapa wilayah di Papua, mencatat harga tertinggi. Di daerah tertentu, harga beras bahkan bisa mencapai Rp54.722 per kilogram. Angka tersebut menunjukkan tantangan besar dalam distribusi pangan di Indonesia timur.
Pemerintah berharap upaya percepatan distribusi melalui SPHP dapat mempersempit kesenjangan harga tersebut. Dengan stok beras yang melimpah, hambatan distribusi menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga.
Budi menegaskan pihaknya akan terus bekerja sama dengan Bapanas untuk melakukan pengawasan di lapangan. Pemerintah menargetkan harga beras semakin terkendali di semua wilayah, sehingga masyarakat dapat membeli dengan harga wajar.
Meski harga mulai turun, pemerintah masih menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga beras di seluruh Indonesia. Dengan strategi percepatan distribusi, keberadaan beras SPHP, dan pengawasan ketat, diharapkan stabilitas pangan bisa terjaga.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!